Selasa, 29 September 2015

Is This the Feel of Love? (Part 8) END

#Title : Is This The Feel Of Love? (Part 8) END
#Genre : Love and Friendship
#Author : Ukima Kanna (Aisyah)
#Tingkatkepenulisan : Level 1 (Jadi maklum jika jelek)
#Cast : Namji
     June (Jun)
     Hanmi (teman dekat Namji)
     Kina (musuh Namji)
#Warning! Banyak typo!!! (Maybe)
*
*
*
“Mba! Bis menuju Bandara Soekarno Hatta kapan berangkat?”, tanya Namji dengan serius.
“Oh! Bis menuju Bandara Soekarno Hatta akan berangkat sebentar lagi, sekitar 1 menit lagi”, jelas wanita penjaga loket itu.
“Dimana bis itu?”, tanya Namji lagi.
“Tinggal lurus saja ke arah sana, jika menemukan toilet, belok kanan. Lalu lurus, dan perhentian bisnya ketemu”, jelas wanita penjaga loket itu lagi.
“Apa cukup jauh dari sini?”.
“Lumayan”.
“Baiklah, terimakasih”.
“Ya”..
Bagaimana aku bisa kesana dalam waktu hanya 1 menit?, batin Namji cemas.
*
*
*
‘Zrassshhh’, hujan turun tiba-tiba dengan derasnya.
“Hh.. hh..hh..”, Namji terus berlari untuk mengejar waktu keberangkatan bis yang June naiki.
Beberapa menit kemudian, dia sampai ditempat pemberangkatan bis. Namji memang melihat June dari kejauhan sedang menaiki bis.
“JUNE!!”, Namji berteriak memanggilnya.
June terhenti sebentar setelah mendengar suara Namji dari arah belakangnya.Dia memang menengok sebentar, tapi June langsung menaiki bisnya.
“JUNE!!!”, Namji meneriaki June lagi.
‘Zrasshh’, hanya suara hujan dan suara mesin mobil bis.
“Kenapa, kenapa ini harus terjadi? Harusnya aku tidak mengabaikannya, kenapa dia harus pergi?”, gumam Namji sambil mulai meneteskan air matanya.
‘Tep.. tep..’, Namji berbalik dan berjalan menjauh.
Sementara June...
“June, tadi sepertinya ayah mendengar ada suara teman yang memanggilmu. Kenapa gak menjawab?”, kata ayah June.
“Nggak”, jawab June singkat sambil melihat ke luar jendela.
“Sepertinya suara cewek, dia orang yang kamu suka ya?”, tanya ayahnya.
“Bukan siapa-siapa”, June menjawab singkat lagi.
“June. Jika ini membuatmu merasa tidak enak, tinggal di rumah saja. Ayah juga bersalah jika melihatmu murung seperti ini setelah ayah memaksamu ikut pindah”, jelas ayah June.
June hanya terdiam.
“Ayolah, ayah akan mengirimimu uang setiap bulannya untuk SPP sekolah dan kehidupanmu sehari-hari sampai kamu tamat kuliah. Selanjutnya, kamu harus mencari uang sendiri”, jelas ayah June lagi sambil memberikansalah satu kartu kreditnya.
“Apa gak papa?”, June menatap ayahnya.
“Tentu saja, ayah juga ingin kamu mandiri. Ayah juga pasti akan balik saat lebaran dan tahun baru. Tapi ayah tidak bisa terus tinggal di Indonesia karena pekerjaan ayah sudah tetap disana”, kata ayah June.
“Kirimi aku surat juga ya”, kata June sambil mengambil kartu kredit dari tangan ayahnya.
“Hahaha.. tentu. Sekarang, cepat kejarlah gadis itu dan pertemukan ayah dengannya suatu hari nanti”, ayah June menepuk pundak June.
“I-itu masih terlalu lama, ayah”, wajah June memerah.
“Sudah, sekarang bawa barangmu dan pergi. Bisnya akan segera berangkat”, kata ayahnya sambil tersenyum.
“Ya”, June membalas senyuman ayahnya.
*
*
*
Namji berjalan terus sambil menangis di tengah derasnya hujan.
“Aku tak akan bisa bertemu dengannya lagi”, gumam Namji.
Tiba-tiba...
‘Grep!’.
Seseorang memutar tubuh Namji dan memeluknya erat.
“H-hey! Apa yang...”, Namji kaget sambil meronta-ronta. “J-june?!”.
“Sudah, diamlah”, bisik June.
“Bagaimana dengan bisnya?”, tanya Namji sambil berusaha mendorong June.
“Aku tidak pergi”, June mengeratkan pelukannya.
“Hey! Lepaskan aku!”, Namji mendorong keras June sampai pelukannya terlepas.
“Memangnya kau tidak sedih aku pergi?”, ejek June.
“T-tentu saja tidak! Huh!”, Namji memalingkan wajahnya.
“Lalu kenapa matamu merah?”, tanya June sambil tersenyum licik.
“I-ini karena air hujannya masuk ke mataku dan mataku memerah”, kata Namji sambil mengusap matanya.
“Ya, ya, terserah”, kata June.
“L-lalu... kenapa kau balik?”, tanya Namji. Tapi June masih tetap diam
“Apa karena aku?”, tanya Namji lagi. June tetap terdiam sambil perlahan menundukan kepalanya.
 “Jadi kau masih membenciku, ya. Lalu kenapa kau memelukku?”.
June masih tetap terdiam.
“Lihat. Kau bahkan tidak bisa bicara. Dasar pengecut”, kata Namji sambil membalikkan badannya lagi dan berjalan menjauh dari June dan meneteskan air matanya lagi.
Aku menyukaimu, bodoh!, kata Namji dalam hati.
“Itu karena...”, June mulai berbicara dengan tetap menundukkan kepalanya.
Namji berbalik sambil terkejut.
“Aku menyukaimu”.
‘Zrash’, hujan pun berhenti.
‘Deg, deg’, jantung Namji berdetak.
“Ap.. apa...?”, mata Namji melebar sambil terbata-bata dan wajah yang mulai memerah.
“Aku bilang, aku me-nyu-ka-i-mu. Perlu kuteriakkan lebih keras? AKU—“.
“Tidak perlu!”, teriak Namji menyodorkan tangannya seraya mencegah June berteriak.
“Nah?”, June menaikkan salah satu alisnya.
“”Nah” apa?!”.
“Bagaimana denganmu?”, tanya June.
Namji terdiam.
“A.. aku...”, Namji mengepalkan tangannya.
“... juga menyukaimu...”, kata Namji dengan suara pelan.
“Ha? Apa? Aku tidak mendengarmu?”, June menggoda Namji dengan meletakkan tangannya di belakang telinga.
“Akujugamenyukaimu! Puas?!”, teriak Namji dengan cepat dan wajah memerah.
‘Sret’, June memeluk Namji lagi secara perlahan dengan lembut.
“Sudah kuduga”, bisik June sambil tersenyum.
“Huh”, balas Namji dengan bibir cemberut.
“Namji, teruslah bersamaku”, June mengeratkan pelukannya.
Namji terkejut dan membalas pelukan June. “Ya”.
June dan Namji akhirnya kembali pulang bersama. Dalam perjalanan pulang...
“Hey, tadi ayahku pesan sesuatu”, kata June.
“Apa?”, tanya Namji.
“Ayah menyuruhku mempertemukanmu dengannya suatu hari nanti”, June tersenyum mengejek.
“Ap-apa... Sudah diam!”, wajah Namji memerah sehingga memalingkan wajahnya dari June
“Wajahmu memerah loh”, ejek June lagi.
“Kubilang Diam!”, Namji menendang June.
“Hahahahaha”, June tertawa senang.


Aku bahagia bersamamu –June dan Namji-   

TAMAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Just a announcement! ^.^

Jika ada sebuah kata-kata yang di translate salah, saya mohon maaf!

Thank you!

Do you want to translate my story??