#Title : Is This The Feel Of Love?
(Part 8) END
#Genre : Love and Friendship
#Author : Ukima Kanna (Aisyah)
#Tingkatkepenulisan : Level 1 (Jadi
maklum jika jelek)
#Cast : Namji
June (Jun)
Hanmi
(teman dekat Namji)
Kina
(musuh Namji)
#Warning! Banyak typo!!! (Maybe)
*
*
“Mba!
Bis menuju Bandara Soekarno Hatta kapan berangkat?”, tanya Namji dengan serius.
“Oh!
Bis menuju Bandara Soekarno Hatta akan berangkat sebentar lagi, sekitar 1 menit
lagi”, jelas wanita penjaga loket itu.
“Dimana
bis itu?”, tanya Namji lagi.
“Tinggal
lurus saja ke arah sana, jika menemukan toilet, belok kanan. Lalu lurus, dan
perhentian bisnya ketemu”, jelas wanita penjaga loket itu lagi.
“Apa
cukup jauh dari sini?”.
“Lumayan”.
“Baiklah,
terimakasih”.
“Ya”..
Bagaimana
aku bisa kesana dalam waktu hanya 1 menit?, batin
Namji cemas.
*
*
*
‘Zrassshhh’,
hujan turun tiba-tiba dengan derasnya.
“Hh..
hh..hh..”, Namji terus berlari untuk mengejar waktu keberangkatan bis yang June
naiki.
Beberapa
menit kemudian, dia sampai ditempat pemberangkatan bis. Namji memang melihat
June dari kejauhan sedang menaiki bis.
“JUNE!!”,
Namji berteriak memanggilnya.
June
terhenti sebentar setelah mendengar suara Namji dari arah belakangnya.Dia
memang menengok sebentar, tapi June langsung menaiki bisnya.
“JUNE!!!”,
Namji meneriaki June lagi.
‘Zrasshh’,
hanya suara hujan dan suara mesin mobil bis.
“Kenapa,
kenapa ini harus terjadi? Harusnya aku tidak mengabaikannya, kenapa dia harus
pergi?”, gumam Namji sambil mulai meneteskan air matanya.
‘Tep..
tep..’, Namji berbalik dan berjalan menjauh.
Sementara
June...
“June,
tadi sepertinya ayah mendengar ada suara teman yang memanggilmu. Kenapa gak
menjawab?”, kata ayah June.
“Nggak”,
jawab June singkat sambil melihat ke luar jendela.
“Sepertinya
suara cewek, dia orang yang kamu suka ya?”, tanya ayahnya.
“Bukan
siapa-siapa”, June menjawab singkat lagi.
“June.
Jika ini membuatmu merasa tidak enak, tinggal di rumah saja. Ayah juga bersalah
jika melihatmu murung seperti ini setelah ayah memaksamu ikut pindah”, jelas
ayah June.
June
hanya terdiam.
“Ayolah,
ayah akan mengirimimu uang setiap bulannya untuk SPP sekolah dan kehidupanmu
sehari-hari sampai kamu tamat kuliah. Selanjutnya, kamu harus mencari uang
sendiri”, jelas ayah June lagi sambil memberikansalah satu kartu kreditnya.
“Apa
gak papa?”, June menatap ayahnya.
“Tentu
saja, ayah juga ingin kamu mandiri. Ayah juga pasti akan balik saat lebaran dan
tahun baru. Tapi ayah tidak bisa terus tinggal di Indonesia karena pekerjaan
ayah sudah tetap disana”, kata ayah June.
“Kirimi
aku surat juga ya”, kata June sambil mengambil kartu kredit dari tangan
ayahnya.
“Hahaha..
tentu. Sekarang, cepat kejarlah gadis itu dan pertemukan ayah dengannya suatu
hari nanti”, ayah June menepuk pundak June.
“I-itu
masih terlalu lama, ayah”, wajah June memerah.
“Sudah,
sekarang bawa barangmu dan pergi. Bisnya akan segera berangkat”, kata ayahnya
sambil tersenyum.
“Ya”,
June membalas senyuman ayahnya.
*
*
*
Namji
berjalan terus sambil menangis di tengah derasnya hujan.
“Aku
tak akan bisa bertemu dengannya lagi”, gumam Namji.
Tiba-tiba...
‘Grep!’.
Seseorang
memutar tubuh Namji dan memeluknya erat.
“H-hey!
Apa yang...”, Namji kaget sambil meronta-ronta. “J-june?!”.
“Sudah,
diamlah”, bisik June.
“Bagaimana
dengan bisnya?”, tanya Namji sambil berusaha mendorong June.
“Aku
tidak pergi”, June mengeratkan pelukannya.
“Hey!
Lepaskan aku!”, Namji mendorong keras June sampai pelukannya terlepas.
“Memangnya
kau tidak sedih aku pergi?”, ejek June.
“T-tentu
saja tidak! Huh!”, Namji memalingkan wajahnya.
“Lalu
kenapa matamu merah?”, tanya June sambil tersenyum licik.
“I-ini
karena air hujannya masuk ke mataku dan mataku memerah”, kata Namji sambil
mengusap matanya.
“Ya,
ya, terserah”, kata June.
“L-lalu...
kenapa kau balik?”, tanya Namji. Tapi June masih tetap diam
“Apa
karena aku?”, tanya Namji lagi. June tetap terdiam sambil perlahan menundukan
kepalanya.
“Jadi kau masih membenciku, ya. Lalu kenapa
kau memelukku?”.
June
masih tetap terdiam.
“Lihat.
Kau bahkan tidak bisa bicara. Dasar pengecut”, kata Namji sambil membalikkan
badannya lagi dan berjalan menjauh dari June dan meneteskan air matanya lagi.
Aku menyukaimu, bodoh!,
kata Namji dalam hati.
“Itu
karena...”, June mulai berbicara dengan tetap menundukkan kepalanya.
Namji
berbalik sambil terkejut.
“Aku
menyukaimu”.
‘Zrash’,
hujan pun berhenti.
‘Deg,
deg’, jantung Namji berdetak.
“Ap..
apa...?”, mata Namji melebar sambil terbata-bata dan wajah yang mulai memerah.
“Aku
bilang, aku me-nyu-ka-i-mu. Perlu kuteriakkan lebih keras? AKU—“.
“Tidak
perlu!”, teriak Namji menyodorkan tangannya seraya mencegah June berteriak.
“Nah?”,
June menaikkan salah satu alisnya.
“”Nah”
apa?!”.
“Bagaimana
denganmu?”, tanya June.
Namji
terdiam.
“A..
aku...”, Namji mengepalkan tangannya.
“...
juga menyukaimu...”, kata Namji dengan suara pelan.
“Ha?
Apa? Aku tidak mendengarmu?”, June menggoda Namji dengan meletakkan tangannya
di belakang telinga.
“Akujugamenyukaimu!
Puas?!”, teriak Namji dengan cepat dan wajah memerah.
‘Sret’,
June memeluk Namji lagi secara perlahan dengan lembut.
“Sudah
kuduga”, bisik June sambil tersenyum.
“Huh”,
balas Namji dengan bibir cemberut.
“Namji,
teruslah bersamaku”, June mengeratkan pelukannya.
Namji
terkejut dan membalas pelukan June. “Ya”.
June
dan Namji akhirnya kembali pulang bersama. Dalam perjalanan pulang...
“Hey,
tadi ayahku pesan sesuatu”, kata June.
“Apa?”,
tanya Namji.
“Ayah
menyuruhku mempertemukanmu dengannya suatu hari nanti”, June tersenyum
mengejek.
“Ap-apa...
Sudah diam!”, wajah Namji memerah sehingga memalingkan wajahnya dari June
“Wajahmu
memerah loh”, ejek June lagi.
“Kubilang
Diam!”, Namji menendang June.
“Hahahahaha”,
June tertawa senang.
Aku bahagia bersamamu
–June dan Namji-
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar