by : Aisyah K. Arsyaf
Di Kampung Nangka, Bekasi, terdapat Genk cewek yang bernama "The Adventure Girls". Mereka berteman baik dan selalu berpetualang bersama-sama. Nama-namanya adalah ... kita lihat saja berikut ini : ada Spivia, Kwila, Privtya, dan Ricia. Nah, hari ini mereka berpetualang ketika memasuki Mesin Waktu yang dibuat oleh Kwila dan hanya karena tertinggal remote control-nya, segalanya menjadi MENEGANGKAN!.
"Sudah selesai .., yayy!", teriak Kwila. Ketiga temannya yang sedang bersantai makan kacang kulit sampai kaget mendengarnya. "Ada apa, Kwila?", tanya Spivia sambil mengambil beberapa butir kacang dan menghampiri Kwila. "Ini adalah mesin waktu ciptaanku yang sudah seminggu ini aku kembangkan dan Tarrraaa ... (sambil menjuraikan tangan) memperkenalkan mesin tersebut. "Dengan mesin waktu ini kita bisa menjelajah waktu sesuka yang kita inginkan, huahahaha *tertawa bangga*.
"Wow ... baiklah Kwila, ayo kita coba kemampuan mesin ini, cepat nyalakan mesinnya", Spivia penasaran. "Wooke", Kwila mengangkat jempolnya. Lalu, Kwila menekan tombol ON di mesin itu. Mereka berempat segera masuk dan secara otomatis pintu mesin waktu tertutup, 'Che..sss' .
Tempat duduk masing-masing telah menanti dan siap untuk menjelajah waktu tapi ternyata ada yang tertinggal. "Perasaanku aneh nih, apa ya ... sepertinya ada yang terlewat", desah Kwila sambil meletakkan dagu diatas tangannya. "O'ow ... astaghfirullah, remote control-nya!" loncat Kwila. "Kenapa kamu, Kwila?" tanya Spivia heran. "Aku lupa bawa remote-nya, Spiv .., padahal remote itu untuk mengendalikan mesin waktu yang kita tumpangi ini", jelas Kwila. "Jika remote itu tidak ada maka tak ada yang dapat kita lakukan selain menunggu hingga pintu akan terbuka sendiri untuk satu kali perjalanan waktu. Jadi jika perjalanan waktunya memakan waktu satu minggu maka satu minggu pula kita terkunci disini", lanjutnya.
(belum selesai Kwila menjelaskan, lalu 'pyuup...' (mereka benar-benar dalam kegelapan) dan pelan-pelan terlihat dua sinar merah dikejauhan yang lama kelamaan tampak seekor ... "Dinosauruuuus!", mereka berempat loncat terkaget-kaget. Dinosaurus yang mendengar teriakan itupun langsung menyerang mereka berempat. "Groaaarh ...!", lengking Dinosaurus sambil memperlihatkan gigi-geliginya yang mengilat, tajam dan menyeramkan itu. "Waaaaa ...", genk petualang lari tunggang-langgang, ketakutan. "Ricia! keluarkan bom asapnya, cepat!", teriak Spivia. "Ba .. Baik Spivia", dan Ricia pun mengambil bom asap dari dalam tasnya, 'syut .. syut, bussshh ..'. Dinosaurus itu kewalahan menghadapi asap yang mengepul dan sementara itu Spivia dan teman-temannya kabur.
Dinosaurus itu sangat marah sambil mengibas-ngibaskan ekornya, "Groaaarh!". Batu besarpun rontok dibuatnya dan pecahannya mengenai kepala Ricia yang bersembunyi dibalik semak-semak. "Ricia, kamu tidak apa-apa? Ayo cepat kita harus berlindung!", perintah Spivia sambil menutup kepala dengan kedua tangannya. "Ya", jawab Ricia pelan sambil membuka tas ranselnya dan 'pluk' sebuah tenda keluar dan dipasang diatas tanah yang tak ada rumputnya. "Ayo, cepat masuk!", ajak Spivia yang diikuti oleh ketiga temannya itu. "Kita harus membuat rencana, Spivia ...", kata Kwila. "Ya benar, tapi pertama-tama yang harus kita lakukan adalah menghentikan darah yang masih saja keluar dari kepala Ricia akibat terkena pecahan batu besar tadi. "Hmmm, aku tahu bagaimana caranya, tadi aku sempat melihat tanaman obat disekitar sini, sebentar ..", kata Privtya sambil mengeluarkan kepalanya dari tenda dan keluar untuk mengambil sesuatu.
Beberapa menit kemudian ...
Kondisi Ricia begitu mengkhawatirkan bagi Genk Petualang. "Bertahanlah, Ricia", ucap Spivia dengan menghapus darah yang mengalir di kepala Ricia. "Ini dia!", Privtya muncul begitu saja. "Lalu, bagaimana caranya?", tanya Spivia. "Begini, pertama, kita harus menumbuknya seperti ini, 'tuk .. tuk ..tuk ..' sampai agak kehitaman lalu ditempelkan dilukanya dan kita tutup dengan kain. Kwila berikan pita dibajumu itu", jelas Privtya. Kwila mencopot pita panjang yang ada dibajunya ... lalu Privtya melakukan tugasnya, 'set .., set .., set ..'
"Nah, selesai. Kalian tahu daun apa ini?", tanya Privtya. "Tidak tahu, memangnya itu daun apa ...", jawab Spivia, Kwila dan Ricia serempak. "Ini daun sirih. Sangat bermanfaat untuk menghentikan pendarahan". "Oooh, gitu ...", angguk Spivia, Kwila dan Ricia. "Baiklah, Ricia ... nanti kamu tunggu disini saja ya, karena kami harus mengalahkan Dinosaurus itu agar kita bisa kembali secepatnya ke dunia kita lagi", anjur Spivia.
"Kwila, bagaiman rencanamu?", tanya Spivia. "Begini ...", jawab Kwila (mereka berempat kumpul dan 'psst .., psst ...), rencana telah disusun.
Kemudian ...
Spivia berkata,"Ayo teman-teman, kita serang dari belakang, ssst ..", Spivia berjinjit sambil mengendap-endap mendekati Dinosaurus itu, dan dengan cepat mereka bertiga berlari dan melilitkan tali di kaki Dinosaurus. Ketika Dinosaurus itu sadar akan kehadiran mereka bertiga, monster itupun langsung melangkahkan kakinya dan ikatan tali itu pun langsung menguat dan membuat Dinosaurus jatuh terjerembab. Lalu, Kwila meletakkan bom di mulut Dinosaurus dan segera menjauh darinya menuju semak-semak. Dan setelah merasa jarak aman, Kwila memencet tombol pemicunya, 'klik', 'Dueerrr !' Dinosaurus hancur berkeping-keping. "Horeee, kamu hebat Kwila!", kata Privtya senang dan begitu juga tiga orang temannya yang lain. "Hey, Kwila keluarlah. Kondisi sudah aman nih ...", teriak Spivia. Namun, Kwila tak kunjung muncul dari semak persembunyiannya. "Dimana Kwila?", Spivia bingung. Melihat kondisi seperti itu, Privtya langsung menghampiri tempat persembunyian Kwila tadi. "Hey Spivia, ada pesan sepertinya, lihat ini", unjuk Privtya yang menyodorkan secarik kertas. "Coba lihat apa isinya Priv ...", pinta Spivia.
"Datanglah ke goa dekat Ngarai Barat jika temanmu ingin selamat. Jangan minta bantuan dari pihak manapun, apalagi polisi dan jangan membawa senjata. Ada peta dibelakang surat ini. Tertanda, Penyihir Wikik".
Mereka bertiga sangat marah dan kesal karena Kwila hilang diculik oleh Penyihir Wikik. Namun Petualangan belum berakhir justru baru saja dimulai. Mereka harus bersiap menghadapi tantangan itu!
Bersambung ....
Dinosaurus itu sangat marah sambil mengibas-ngibaskan ekornya, "Groaaarh!". Batu besarpun rontok dibuatnya dan pecahannya mengenai kepala Ricia yang bersembunyi dibalik semak-semak. "Ricia, kamu tidak apa-apa? Ayo cepat kita harus berlindung!", perintah Spivia sambil menutup kepala dengan kedua tangannya. "Ya", jawab Ricia pelan sambil membuka tas ranselnya dan 'pluk' sebuah tenda keluar dan dipasang diatas tanah yang tak ada rumputnya. "Ayo, cepat masuk!", ajak Spivia yang diikuti oleh ketiga temannya itu. "Kita harus membuat rencana, Spivia ...", kata Kwila. "Ya benar, tapi pertama-tama yang harus kita lakukan adalah menghentikan darah yang masih saja keluar dari kepala Ricia akibat terkena pecahan batu besar tadi. "Hmmm, aku tahu bagaimana caranya, tadi aku sempat melihat tanaman obat disekitar sini, sebentar ..", kata Privtya sambil mengeluarkan kepalanya dari tenda dan keluar untuk mengambil sesuatu.
Beberapa menit kemudian ...
Kondisi Ricia begitu mengkhawatirkan bagi Genk Petualang. "Bertahanlah, Ricia", ucap Spivia dengan menghapus darah yang mengalir di kepala Ricia. "Ini dia!", Privtya muncul begitu saja. "Lalu, bagaimana caranya?", tanya Spivia. "Begini, pertama, kita harus menumbuknya seperti ini, 'tuk .. tuk ..tuk ..' sampai agak kehitaman lalu ditempelkan dilukanya dan kita tutup dengan kain. Kwila berikan pita dibajumu itu", jelas Privtya. Kwila mencopot pita panjang yang ada dibajunya ... lalu Privtya melakukan tugasnya, 'set .., set .., set ..'
"Nah, selesai. Kalian tahu daun apa ini?", tanya Privtya. "Tidak tahu, memangnya itu daun apa ...", jawab Spivia, Kwila dan Ricia serempak. "Ini daun sirih. Sangat bermanfaat untuk menghentikan pendarahan". "Oooh, gitu ...", angguk Spivia, Kwila dan Ricia. "Baiklah, Ricia ... nanti kamu tunggu disini saja ya, karena kami harus mengalahkan Dinosaurus itu agar kita bisa kembali secepatnya ke dunia kita lagi", anjur Spivia.
"Kwila, bagaiman rencanamu?", tanya Spivia. "Begini ...", jawab Kwila (mereka berempat kumpul dan 'psst .., psst ...), rencana telah disusun.
Kemudian ...
Spivia berkata,"Ayo teman-teman, kita serang dari belakang, ssst ..", Spivia berjinjit sambil mengendap-endap mendekati Dinosaurus itu, dan dengan cepat mereka bertiga berlari dan melilitkan tali di kaki Dinosaurus. Ketika Dinosaurus itu sadar akan kehadiran mereka bertiga, monster itupun langsung melangkahkan kakinya dan ikatan tali itu pun langsung menguat dan membuat Dinosaurus jatuh terjerembab. Lalu, Kwila meletakkan bom di mulut Dinosaurus dan segera menjauh darinya menuju semak-semak. Dan setelah merasa jarak aman, Kwila memencet tombol pemicunya, 'klik', 'Dueerrr !' Dinosaurus hancur berkeping-keping. "Horeee, kamu hebat Kwila!", kata Privtya senang dan begitu juga tiga orang temannya yang lain. "Hey, Kwila keluarlah. Kondisi sudah aman nih ...", teriak Spivia. Namun, Kwila tak kunjung muncul dari semak persembunyiannya. "Dimana Kwila?", Spivia bingung. Melihat kondisi seperti itu, Privtya langsung menghampiri tempat persembunyian Kwila tadi. "Hey Spivia, ada pesan sepertinya, lihat ini", unjuk Privtya yang menyodorkan secarik kertas. "Coba lihat apa isinya Priv ...", pinta Spivia.
"Datanglah ke goa dekat Ngarai Barat jika temanmu ingin selamat. Jangan minta bantuan dari pihak manapun, apalagi polisi dan jangan membawa senjata. Ada peta dibelakang surat ini. Tertanda, Penyihir Wikik".
Mereka bertiga sangat marah dan kesal karena Kwila hilang diculik oleh Penyihir Wikik. Namun Petualangan belum berakhir justru baru saja dimulai. Mereka harus bersiap menghadapi tantangan itu!
Bersambung ....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar