oleh : A.K. Arsyaf
(Sambungan dari judul Petualangan Mesin Waktu)
“Ricia apakah kau sudah baikan?” kata Spivia, “sudah... ” kata Ricia ”baiklah kalau begitu, ayo kita kalahkan penyihir Wikik itu, walaupun kita hanya tinggal bertiga tapi kita pasti bisa mengalahkannya” kata Spivia bersemangat, ”baik!” kata Ricia dan Privtya.
Setelah menempuh dua
hari perjalanan dari Bekasi menuju Borobudur, Jawa Tengah. tibalah mereka di depan pintu gerbang Candi
Borobudur. ”Hhh, hhh, hhh, Spivia, kita
harus naik kendaraan agar cepat sampai.” kata Privtya terengah-engah. ”Hmm, baiklah
bagaimana kalau kita naik kuda itu saja,
yuk?” kata Spivia sambil menunjuk seekor kuda hitam yang terikat di sebatang
pohon, ”Eh..., kalian bawa uang?” kata Spivia,
“bawa!” kata Privtya dan Ricia. “Ya sudah, kita patungan yuk untuk menyewa kuda
itu. ” Kemudian Privtya mereka
menghampiri nenek tua yang berada di dekat kuda itu dan bertanya, “Maaf nek,
bolehkah kami menyewa kuda hitam ini untuk naik ke gua belakang Candi Borobudur?”
kata Privtya yang sudah menyiapkan uang sewa.
“Silakan saja cu..., tidak usah menyewa kuda ini, pakai saja. “Wah, terima kasih banyak ya nek, kami janji
setelah urusan kami selesai maka kami akan segera mengembalikn kuda hitam milik
nenek ini.” kata mereka bertiga serempak.
Rupanya jalan terjal
semakin rumit saja ketika hendak mencapai gua yang terletak di Candi Borobudur
itu. Pyuh, akhirnya sampai juga.” kata Spivia,
”ayo, cepat kita harus menyelamatkan Kwila!” kata Privtya. “Eit,
tahan dulu.” kata Spivia sambil mengikat tali kekang kuda. ”Spivia, sebenarnya siapa yang menciptakan penyihir
itu. ” kata Privtya sambil berjalan memegang peta, ”oh...baiklah, begini
ceritanya, sepuluh tahun yang lalu di Bekasi ada seorang profesor wanita yang terkenal pandai meracik ramuan sihir, suatu
hari profesor wanita itu membentur meja tempat ia meletakkan ramuan sihirnya, ramuan
itu tumpah hingga membasahi wajah profesor wanita itu. Pada awalnya dia tidak menyadari bahwa
hidungnya semakin membesar dan panjang namun ketika ia hendak mencuci wajahnya
dan bercermin maka seketika ia kaget dan sadar bahwa dirinya telah berubah
wujud menjadi seorang penyihir. Dia
tidak menghiraukan ejekan para tetangga dan orang-orang yang melihatnya dengan
rasa takut tetapi rupanya ejekan tersebut terlalu menyakitkan baginya sehingga
ia berubah menjadi jahat dan tidak menyukai manusia lain berada di
dekatnya. Lalu, penyihir itu bersembunyi
entah dimana, ia seperti hilang ditelan bumi setelah itu aku tidak tahu lagi. Sedangkan yang menciptakan Dinosaurus itu
masih menjadi teka-teki tapi mungkin ada hubungannya dengan penyihir Wikik. ” kata Spivia.
”Hei..., kita sudah
sampai. ” kata Spivia, lalu terdengar suara... kaaak, kaaak ternyata itu adalah
gagak raksasa. “Awas, ada burung gagak raksasa!” kata Spivia, namun terlambat,
Syut! Privtya di ambil oleh burung gagak itu “Spiviaaa!” kata Privtya kepanikan
karena sudah dalam cengkraman gagak itu.
Di dalam gua, “Lepaskan aku!” kata Kwila,
(lalu kreek ‘bruuk’ “aduh!”) Privtya...?” kata Kwila “Kwila, apakah kau tidak apa-apa?”
kata Privtya khawatir. “Aku tidak
apa-apa.” kata Kwila. “Hi, hi, hi, hi, akhirnya
sudah terkumpul dua. ” kata si penyihir. ”Hei, apakah dia penyihir itu?” kata Privtya penasaran. “Ya, benar.
” kata Kwila. “Teman-teman kami akan datang ke sini untuk
menyelamatkan kami dan kau akan merasakan akibatnya, huh.” kata Privtya, “he, he,
he, anak yang bersemangat. ” kata penyihir
itu, ”Kita lihat saja nanti, paling-paling kalian berempat akan menjadi
santapan makan malam yang lezaat, hi, hi, hi ...”. Lalu mereka berdua terus menaiki tangga itu,
”tangganya panjang sekali, ya?” kata Spivia ”benar” kata Ricia membalasnya ”Ricia
aku minta minumnya, ya?” kata Spivia ”iya nih, Vi” kata Ricia ”Glek, Glek, ah
makasih, ya” kata Spivia ”iya, sini
gantian” kata Ricia ”yuk, jalan” kata Spivia.
mereka terus menaiki tangga itu lalu munculah seekor laba-laba
raksasa. ’Kres, kres’ ”suara apa itu?”
kata Spivia ”iya, suara apa ya?” kata Ricia juga penasaran. Lalu...khaaak “Ricia awas!” kata Spivia
memberitahu Ricia “hah?aaaaaaa!” “Riciaaaa!” kata Spivia kaget karena Ricia di
culik “Spiviaaa!” kata Ricia kepanikan.
Teman-teman ternyata tinggal Spivia bagaimana kelanjutanya..ya?, kita
lihat saja...yuk!. Lalu Spivia sendirian
melewati tangga itu, lalu sampailah ia di pintu paling ujung,ternyata ada
banyak monster di sana ”groaaaaarrrrr” semua monster itu ingin menyerang Spivia,
lalu ”hyaaaaattttt” kata Spivia, Spivia dari kecil sudah jago karate lho
teman-teman jadi dia sudah pasti bisa melawan monster-monster itu, lanjut lagi
ke petualangannya!. ’desh, desh, desh,
bruk, bruk, bruk’ semua monster-monster itu mati, ternyata ada kelelawar pengintai
yang dibuat oleh penyihir itu, dia melihat didalam ruangannya dengan memakai TV
layar lebar ha...ha...ha nggaklah, dia melihat dengan bola Kristalnya ”huh,
kurang ajar dia berhasil melawan monster-monsterku” kata penyihir wikik ”hah,
betulkan apa kami bilang kau pasti kalah Spiviakan dari kecil sudah jago karate” kata
Kwila menjelaskan penyihir Wikik ”ha, ha, ha, bukan masalah aku masih punya
banyak monster jadi dia pasti kalah”, sambung penyihir Wikik.
Bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar