Sabtu, 05 Mei 2012

Petualangan Di Bawah Tanah


oleh : A.K. Arsyaf       

(Sambungan dari judul Petualangan Mesin Waktu)      

       “Ricia apakah kau sudah baikan?” kata Spivia, “sudah... ” kata Ricia ”baiklah kalau begitu, ayo kita kalahkan penyihir Wikik itu, walaupun kita hanya tinggal bertiga tapi kita pasti bisa mengalahkannya” kata Spivia bersemangat, ”baik!” kata Ricia dan Privtya.

Setelah menempuh dua hari perjalanan dari Bekasi menuju Borobudur, Jawa Tengah.  tibalah mereka di depan pintu gerbang Candi Borobudur.  ”Hhh, hhh, hhh, Spivia, kita harus naik kendaraan agar cepat sampai.” kata Privtya terengah-engah. ”Hmm, baiklah bagaimana kalau kita naik kuda  itu saja, yuk?” kata Spivia sambil menunjuk seekor kuda hitam yang terikat di sebatang pohon,  ”Eh..., kalian bawa uang?” kata Spivia, “bawa!” kata Privtya dan Ricia. “Ya sudah, kita patungan yuk untuk menyewa kuda itu.  ” Kemudian Privtya mereka menghampiri nenek tua yang berada di dekat kuda itu dan bertanya, “Maaf nek, bolehkah kami menyewa kuda hitam ini untuk naik ke gua belakang Candi Borobudur?” kata Privtya yang sudah menyiapkan uang sewa.  “Silakan saja cu..., tidak usah menyewa kuda ini, pakai saja.  “Wah, terima kasih banyak ya nek, kami janji setelah urusan kami selesai maka kami akan segera mengembalikn kuda hitam milik nenek ini.” kata mereka bertiga serempak. 
Rupanya jalan terjal semakin rumit saja ketika hendak mencapai gua yang terletak di Candi Borobudur itu.  Pyuh, akhirnya sampai juga.” kata Spivia, ”ayo, cepat kita harus menyelamatkan Kwila!” kata Privtya.   “Eit, tahan dulu.” kata Spivia sambil mengikat tali kekang kuda.  ”Spivia, sebenarnya siapa yang menciptakan penyihir itu. ” kata Privtya sambil berjalan memegang peta, ”oh...baiklah, begini ceritanya, sepuluh tahun yang lalu di Bekasi ada seorang profesor wanita  yang terkenal pandai meracik ramuan sihir, suatu hari profesor wanita itu membentur meja tempat ia meletakkan ramuan sihirnya, ramuan itu tumpah hingga membasahi wajah profesor wanita itu.  Pada awalnya dia tidak menyadari bahwa hidungnya semakin membesar dan panjang namun ketika ia hendak mencuci wajahnya dan bercermin maka seketika ia kaget dan sadar bahwa dirinya telah berubah wujud menjadi seorang penyihir.  Dia tidak menghiraukan ejekan para tetangga dan orang-orang yang melihatnya dengan rasa takut tetapi rupanya ejekan tersebut terlalu menyakitkan baginya sehingga ia berubah menjadi jahat dan tidak menyukai manusia lain berada di dekatnya.  Lalu, penyihir itu bersembunyi entah dimana, ia seperti hilang ditelan bumi setelah itu aku tidak tahu lagi.  Sedangkan yang menciptakan Dinosaurus itu masih menjadi teka-teki tapi mungkin ada hubungannya dengan penyihir Wikik.  ” kata Spivia.   
Sementara di dalam gua, ”ngh..., hah di mana aku?” kata Kwila mengangkat kepalanya. Lalu terdengar suara tawa menyeraamkan.                       ”Hi, hi, hi.., sudah sadar ya?” kata si penyihir. ”Hei, siapa kau?! kenapa aku bisa berada di sini.  ” kata Kwila lagi. “Hi, hi, hi..., Aku adalah penyihir Wikik dan teman-temanmu yang sok pintar itu akan menyelamatkanmu tapi mereka harus mengalahkan gagak raksasaku dan monster-monster lainnya terlebih dahulu, karena kalau tidak maka mereka yang akan dimakan sebagai menu istimewa, hi, hi, hi, hi.” kata penyihir itu, “oh...tidak.” kata Kwila.
”Hei..., kita sudah sampai. ” kata Spivia, lalu terdengar suara... kaaak, kaaak ternyata itu adalah gagak raksasa. “Awas, ada burung gagak raksasa!” kata Spivia, namun terlambat, Syut! Privtya di ambil oleh burung gagak itu “Spiviaaa!” kata Privtya kepanikan karena sudah dalam cengkraman gagak itu. 
        Di dalam gua, “Lepaskan aku!” kata Kwila, (lalu kreek ‘bruuk’ “aduh!”) Privtya...?” kata Kwila “Kwila, apakah kau tidak apa-apa?” kata Privtya khawatir.  “Aku tidak apa-apa.” kata Kwila.  “Hi, hi, hi, hi, akhirnya sudah terkumpul dua.  ” kata si penyihir.  ”Hei, apakah dia penyihir itu?” kata Privtya penasaran.   “Ya, benar. ” kata Kwila.    “Teman-teman kami akan datang ke sini untuk menyelamatkan kami dan kau akan merasakan akibatnya, huh.” kata Privtya, “he, he, he, anak yang bersemangat.  ” kata penyihir itu, ”Kita lihat saja nanti, paling-paling kalian berempat akan menjadi santapan makan malam yang lezaat, hi, hi, hi ...”.  Lalu mereka berdua terus menaiki tangga itu, ”tangganya panjang sekali, ya?” kata Spivia ”benar” kata Ricia membalasnya ”Ricia aku minta minumnya, ya?” kata Spivia ”iya nih, Vi” kata Ricia ”Glek, Glek, ah makasih, ya” kata Spivia ”iya,  sini gantian” kata Ricia ”yuk, jalan” kata Spivia.  mereka terus menaiki tangga itu lalu munculah seekor laba-laba raksasa.  ’Kres, kres’ ”suara apa itu?” kata Spivia ”iya, suara apa ya?” kata Ricia juga penasaran.  Lalu...khaaak “Ricia awas!” kata Spivia memberitahu Ricia “hah?aaaaaaa!” “Riciaaaa!” kata Spivia kaget karena Ricia di culik “Spiviaaa!” kata Ricia kepanikan.  Teman-teman ternyata tinggal Spivia bagaimana kelanjutanya..ya?, kita lihat saja...yuk!.  Lalu Spivia sendirian melewati tangga itu, lalu sampailah ia di pintu paling ujung,ternyata ada banyak monster di sana ”groaaaaarrrrr” semua monster itu ingin menyerang Spivia, lalu ”hyaaaaattttt” kata Spivia, Spivia dari kecil sudah jago karate lho teman-teman jadi dia sudah pasti bisa melawan monster-monster itu, lanjut lagi ke petualangannya!.  ’desh, desh, desh, bruk, bruk, bruk’ semua monster-monster itu mati, ternyata ada kelelawar pengintai yang dibuat oleh penyihir itu, dia melihat didalam ruangannya dengan memakai TV layar lebar ha...ha...ha nggaklah, dia melihat dengan bola Kristalnya ”huh, kurang ajar dia berhasil melawan monster-monsterku” kata penyihir wikik ”hah, betulkan apa kami bilang kau pasti kalah  Spiviakan dari kecil sudah jago karate” kata Kwila menjelaskan penyihir Wikik ”ha, ha, ha, bukan masalah aku masih punya banyak monster jadi dia pasti kalah”, sambung penyihir Wikik. 


 Bersambung...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Just a announcement! ^.^

Jika ada sebuah kata-kata yang di translate salah, saya mohon maaf!

Thank you!

Do you want to translate my story??