Oleh
: A.K. Arsyaf
(Sambungan dari “Don’t Forget,
Me!!!” )
Di rumah sakit ...
“Ehm... Suster! Ada yang namanya
Dena Ri Putri?” tanya Bu Jami’.
“Sebentar ya bu, saya lihat
daftarnya dulu” balas suster itu.
Suster itu mencari-cari dengan
meletakan telunjuknya di atas daftar itu dan...
“Eh... Ini bu! kamar 147
ya...” kata suster itu.
“Oh.. makasih ya...” balas Bu Jami’
sambil menarik tangannya Indah.
Setelah mencari cari, akhirnya
ketemu juga kamar itu, kamar 147. tiba-tiba ada seorang dokter yang keluar
kamar.
”Dokter! Bagaimana ke adaan anak itu?” tanya Bu Jami’.
”Apa Dokter?” tanya Indah.
”AMNESIA!” kata dokter itu
sambil menunduk.
Air mata Indah langsung
menetes (Padahal Indah gak tau apa itu Amnesia. Dia kira itu penyakit atau luka
yang sangat parah sampai harus di operasi) tak karuan di menyebut nama Dena
dalam hatinya. Dena! Dena! Dena!!!!.
”Ya... ALLAH Kenapa bisa
begitu dok?” tanya Bu Jami’ menutup mulutnya. Bu Jami’ pasti tau artinya karena
Bu Jami’kan juga dokter.
”Ya, kepalanya membentur
dengan keras dan akhirnya .... ya” kata dokter itu menunduk.
Tiba-tiba seorang suster
keluar kamar.
”Dokter, pasien itu sudah
bangun! Kalau ada yang menjenguknya sudah boleh masuk” kata suster itu sambil
menunjuk menunjuk kamar 147.
Indah yang tadinya menangis di kursi, langsung
menghentikan tangisannya.
”Dena!” teriak Indah sambil
berlari menuju kamar itu.
Dan perlahan-lahan Dena
membuka matanya.
”Ng? Di... di mana aku?” kata
Dena.
”Kamu di rumah sakit, Na!”
kata Indah menahan tangisan.
Tapi, saat Dena menengok ke
arah Indah, ucapan Dena dan sikapnya langsung berubah!
” Loe siapa?” kata Dena dengan
kata-kata yang sangat tidak sopan.
Teman-teman tau tidak,
perkataan Dena seperti kata dan gaya ucapan Mikha, saat di jenguk oleh Indah.
Perasaan Indah saat mendengar perkataan Dena, hatinya langsung meledak! Indah langsung keluar dan menangis
sesedih-sedihnya.
”Dena! kok perkataan kamu
begitu sih!” teriak Bu Jami’ agak keras.
”Bu! Diakan lagi amnesia...”
kata dokter berbisik.
”Oh Iya, ya!” balas Bu Jami’
juga berbisik.
”Dena, kamu gak boleh begitu,
dia kan sahabat kamu” kata Bu Jami’ lembut.
”Tunggu, ibu siapa? Memang
namaku Dena ya? Aku tidak tau siapa namaku, dan teman-teman ku itu GROUP
ISENGER GIRLS you no? Aku tidak kenal yang namanya Indah!” kata nya agak lebay.
Wah! Dia benar-benar amnesia nih! Kata Bu Jami’ dalam hatinya. Akhirnya Bu Jami’ keluar.
”Dok! Apa saya udah boleh
pulang?” tanya Dena.
”Iya kamu udah boleh pulang,
tapi papa sama mama kamu belum siuman jadi kamu pulang bareng anak tadi ya...
mungkin dia tau rumahmu.” kata dokter sambil keluar kamar.
Dan Dena langsung bangun dari
tempat tidur, dan keluar dari kamar. Dena melihat Indah sedang menangis, tapi
Dena langsung memalingkan wajahnya dari Indah.
”Eh! Kata dokter gue suruh
pulang bareng loe, jadi cepet!” katanya sambil menunjuk Indah dan langsung
berjalan.
Di mobil, Indah dan Dena hanya diam tanpa bicara,
padahal dulu sebelum Dena Amnesia. Semua belum begini, dulu masih sangat ramai,
kami berbicara dengan ria.
”Eh kamu, nama kamu Dena ya...”
kata Bu Jami’.
Dena hanya menangguk.
Keesokkan harinya...
”Dena tunggu!” Teriak Indah.
”Apa sih. loe lagi! dibilang
gue nggak kenal loe, tadi ibu itu bilang loe sahabat gue, padahal sahabat gue
GROUP ISENGER GIRLS!” teriaknya.
Tapi tiba-tiba, perlahan
langkah Dena berhenti. Indah melihat di depannya Dena ada tiga orang yang
jalannya lebay, ternyata itu... GROUP ISENGER GIRLS!
”Hei!” Panggil Dena kepada
Group Isenger Girls.
”Apa Denol?” ejek Mikha.
”Ih! Kamyu, jangan begitu dong
sama sahabat” kata dena agak sedikit menyengol tubuh Mikha.
“Lho, kamukan temennya si Indah
masa sama kami sih!”kata Mikha menunjuk Indah.
Beberapa saat kemudian...
Hmmm... kenapa nih si Denol? Mungkin aku harus berpura-pura menjadi
sahabat karibnya. Biar aja Indah sendiri. Kata Mikha dalam hati
”Oh! Iya iya, kau sahabat aku
yang paaaling aku sayangi! Aku
juga nggak kenal sama dia, mungkin dia cuma CaPer (cari perhatian) aja!” Mikha mulai berakting, menyukai Dena.
”Ya udah yuk kita ke kelas!”
kata Dena menarik tangan Mikha.
Sebenarnya,
kelas Indah dan Dena, sekelas dengan Group Isenger Girls. Jadi wajar kalau
mereka berselisih, namun Indah dan Dena adalah
termasuk anak yang pintar disekolahnya.
Saat
pelajaran Dena nggak inget satu pun pelajaran kalian tau gak? Dena sampai di
hukum karena nggak ngerjain PR dan tidak memebawa buku pelajaran secara
teratur.
Waktu Istirahat...
Saat
istirahat semua bicarakan Dena. Ada yang bilang, ”Dena jadi nakal!”, ”Dena jadi gak hebat!”, ”Gak pinter!”.
banyak yang bicarain Dena.
”Dena! Mau makan di kantin gak?” tanya Indah.
”Aku udah
bilang aku nggak kenal KAMU!” Dena berteriak sambil melotot.
Hari ini
Indah begitu sedih, dia makan di kantin tanpa ada yang menemani paling, hanya
anak-anak yang baik kepadanya.
Sesudah bell,
Idah bertemu Dena bersam group Isenger Girls.
”Hai Dena!”
Indah melambaikan tangannya.
Dena hanya
berpaling dari Indah.
”Sudahlah
Indah, kau harus mengakhiri persahabatanmu! Selalu ada awal dan ada akhir!”
kata Mikha dan grupnya sambil berjalan menuju kelas.
Bersambung ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar