#Title : Is This
The Feel Of Love? (Part 1)
#Genre : Love
and Friendship
#Author : Ukima
Kanna (Aisyah)
#Tingkatkepenulisan
: Level 1 (Jadi maklum jika jelek)
#Cast : Namji
June (Jun)
Hanmi (teman dekat Namji)
Kina (musuh Namji)
#Warning!! Banyak typo!! (Maybe... -_-")
#Warning!! Banyak typo!! (Maybe... -_-")
***
Hai! Author balik lagi, dan
sekarang aku sudah SMP, tidak terasa. Terakhir kali membuat blog ini adalah
kelas 5 SD, dan sekarang muncul lagi dengan cerita tentang “cinta”. Jika jelak
tolong maklumkan, author masih pemula juga dalam hal cinta... ^_^”
Oke, Happy Reading!! <3 <3
<3
***
***
Namaku Namji, siapapun yang
pertama kali mendengar namaku, pasti mengira aku laki-laki. Padahal nama
lengkapku Rizkya Namji... ya, memang aku ini anak perempuan yang paling tomboy
di sekolah, dan terkadang paling benci sama anak laki-laki yang nakal. Kebanyakan
perempuan, biasanya tau apa itu cinta, kan? Walaupun ada yang tau apa itu
cinta, pasti ada yang sedikit dan ada yang bayak mengetahui tentang cinta.
Tapi, aku adalah satu-satunya
perempuan yang sama sekali tidak mengerti apa itu “cinta”. Dan seseorang muncul
dalam hidupku, dan membuatku tau apa itu cinta.
Hari pertama ke sekolah baru,
tapi ini bukan kerena kenaikan kelas. Aku dan keluargaku hanya pindah karena
Ayah dinas ke Jakarta.
Aku menjadi murid baru di salah
satu SMP negeri favorite, aku sedikit kesal. Tapi bukan karena aku sekolah di
SMP favorite, itu karena aku kesal jika nanti mungkin banyak anak-anak nakal dan
cewek-cewek yang di sebut “alay”. Wajar saja aku membenci hal itu, karena aku
anak tomboy.
“Namji, ayo cepat di makan
rotinya! Nanti terlambat!” Ibu membuyarkan lamunanku.
“Oh! I, iya, bu..” aku pun langsung melahap habis rotiku,
dan meminum susu lalu berangkat menuju mobil. Aku di antar oleh supir pribadi
keluargaku, karena memang aku orang yang lumayan berkecukupan.
Sesampainya di sekolah...
“Terima kasih ya, pak Ferdi!” kataku sambil tersenyum
kepada pak Ferdi (supir pribadi keluargaku) setelah keluar dari mobil.
“Iya, sama-sama nona Nam..” jawab pak Ferdi. Aku yang
menyuruhnya memanggilku begitu, karena lebih enak di telingaku.
Aku ke ruang guru terlebih dahulu, karena memang aku di
suruh pergi ke ruang guru kata ibuku. Aku di beritau oleh seorang guru sebelum
aku masuk ke gedung sekolah, karena aku menanyakannya.
‘Kriiingg!!!!’ bel masuk berbunyi.
Di kelas...
“Selamat pagi, anak-anak!” kata Bu Fia memulai.
“Selamat pagi, bu!” jawab semua murid.
“Hari ini kita punya murid baru, perkenalkan dirimu,
nak..” kata bu Fia mempersilahkanku.
“Namaku Rizkya Namji, kalian bisa memanggilku Namji”
jelasku.
“Baiklah, Namji, silahkan duduk..” kata Bu Fia.
“Terima kasih, bu..” aku pun langsung menuju 2 kursi yang
masing kosong di belakang. Mungkin masih ada yang belum datang.
“Baiklah, sekarang kita absen dulu, ya..” kata Bu Fia.
“Ani”.
“Hadir!”.
“Aidi”.
“Hadir!”.
“June”.
Tidak ada yang menjawab.
“June terlambat la...”.
“Hadir! Hh.. hh.. hh..” kata seorang anak laki-laki yang
di sebut June itu. Dia baru masuk ke kelas.
“Ya ampun, kenapa kamu terlambat lagi?” tanya Bu Fia
kepada June.
“Maaf bu, saya tadi bangun kesiangan...” kata June. Dia menatapku,
lalu pergi duduk disampingku. Dia mengeok kepadaku sambil melihatku dengan
bingung.
“Ke.. kenapa?!” tanyaku kaget.
“Nngg... Bu! Apa anak ini nyasar?” katanya.
“!!” aku kesal dan...
‘Bukk!” aku menjitaknya cukup keras.
“Aduh!” dia memegang kepalanya yang mungkin(?) sakit.
“June, dia Namji murid baru. Bersikap baiklah kepadanya!”
kata Bu Fia menjelaskan.
“Ooh... aku kira penggembala kambing yang nyasar masuk ke
sekolah ini...” katanya.
“Grrr!!!” aku sudah mengepalkan tangan untuk menabok(?)nya.
“Baiklah, kita mula pelajarannya. Buka buku halaman 121!”
perintah Bu Fia.
Saat istirahat...
“Huft! Melelahkan! Pertama kalinya aku mengerjakan tugas
seperti ini!” gumamku menyenderkan punggung di kursi. “Hmm... aku ingin
berkeliling di sekolah ini, ah!”.
Aku pun keluar kelas dan berjalan ke lantai atap. Ya,
lantai atap adalah tempat faforitku di sekolah. Aku lebih suka menyendirir dari
pada berkumpul dengen anak perempuan lain! Mereka menggosip di tambah pake
bahasa “alay”, aku benci itu!
“Hah... menghirup udara segar pagi hari menjelang siang,
tanpa satu orang...... pun..” tiba-tiba kebahagiaanku tertunda saat aku melihat
ada seorang anak laki-laki yang sedang tiduran di sebuah bangku panjang.
Dan.... itu adalah June.
“Kenapa mesti
ada dia?????!!!!!!” teriakku dalam hati.
‘Whuuussshhh...’ angin lembut menerpa rambutku dan rambut
June.
Entah kenapa saat aku melihat rambut June menerpa
wajahnya yang sedang tidur, ada sebuah perasaan di dalam dadaku. Entah apa
itu.. (bener-bener gak ngerti cinta.. -_-). Aku hanya diam melihat wajahnya.
“Hooaaahhh!” tiba-tiba June terbangun, dan aku tertegun.
“Hah!” keterbangunan(?)nya itu membuyarkan lamunanku.
“Lho? Sedang apa kau disini?” tanyanya dengan wajah orang
yang habis bangun dari tidur *emang iya kalee!!.
“Ini tempat faforitku di sekolah tau!” tadinya aku ingin
membangunkanmu dengan menabokmu.
“Dasar cewek tomboy!” katanya yang langsung pergi
meninggalakanku.
“Huh! Tapi...
kenapa dadaku rasanya aneh, ya? Saat melihat wajahnya tadi?” kataku
dalam hati. ”Ahh!! Aku tidak mengerti!!”.
Sepulang sekolah....
“Akhirnya pulang sekolah terjadi(?) juga!” gumamku.
“Ah! Sok banget sih, kamu ini!” tib-tiba ada sebuah suara
dari taman belakang sekolah, saat aku melewatinya. Tidak ada orang lain, aku
terakhir pulang karena harus mengantarkan buku-buku ke ruang guru.
“Ada apa itu?” tanyaku pada diriku.
Ternyata ada 4 orang murid perempuan sama sepertiku,
mereka dari sekolahku, sedang bertengakar dengan satu murid perempuan berkacama
mata yang manis.
“Sedang apa
itu?” pikirku lagi.
“Kalian jangan menyiksa kucing ini! Kucing ini tidak
berdosa!” kata anak perempuan berkaca mata itu.
“Tapi dia sudah membuat bajuku sobek!” bentak salah satu
dari 4 anak perempuan itu.
“Pokoknya aku melakukan apapun untuk melindungi kucing
ini!” balas anak perempuan berkaca mata.
‘Brukk!’ salah satu dari 4 anak perempuan itu,
mendorongnya sampai jatuh bersama seeko kucing.
“Cih! Kurang
ajar!” langsung saja aku menghampiri 4 orang anak perempuan
itu.
“Hei! Mau apa kalian!” bentakku.
“Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan kita, ya!!” kata
salah satu dari 4 orang anak perempuan itu.
“Aku berhak ikut campur, karena aku juga berasal dari
sekolah ini!!” balasku lagi.
“Huh! Biasanya anak baru gak ada gunanya! Sama seperti
dia!” kata salah satu dari 4 orang anak perempuan itu lagi.
“Apa kau bilang?!”
‘Plakk!’ aku langsung menampar pipi anak permpuan
yang baru saja bicara. Dan tamparanku
itu bahkan hambir membuatnya jatuh.
“Aww!” katanya meringis. Aku tau itu pasti sakit, karena
tanganku menceplak di pipinya sampai merah.
“Ayo, kita pergi! Mereka hanya SAMPAH sekolah!!” kataku
mengencangkan suara di kata-kata “sampah”. Aku menuntun anak perempuan berkaca
mata itu dengan kucingnya keluar taman belakang sekolah.
“Apa??” anak perempuan yang tadi aku tampar menggeram.
“Lihat saja nanti, Namji!”.
(Author : Lho? Kenapa anak perempuan itu tau nama Namji?
Sebenarnya siapa anak perempuan itu???)
To Be Continued...
Ohh ini toh blog km ^^
BalasHapusKeren (y)