Senin, 16 Februari 2015

Is This The Feel Of Love? (Part 7)

#Title : Is This The Feel Of Love? (Part 7)
#Genre : Love and Friendship
#Author : Ukima Kanna (Aisyah)
#Tingkatkepenulisan : Level 1 (Jadi maklum jika jelek)
#Cast : Namji
     June (Jun)
     Hanmi (teman dekat Namji)
     Kina (musuh Namji)
#Warning! Banyak typo!!! (Maybe)
Telepon terus berdering tapi Namji bersikeras menutupnya terus, dan akhirnya Namji mematikan handphone-nya.
“Lebih baik aku tidur!”, Namji langsung pergi ke kamar mandi untuk mengganti pakaian dan mandi.
Setelah mandi, Namji sudah memakai piyamanya. Dan akhirnya duduk di pinggir kasur ambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
“Besok akan menjadi hari yang buruk!”, gumam Namji kesal.
Namji pun tidur setelah mematikan lampu kamarnya dan menyalakan lampu tidur.
*
*
*
Keesokan harinya...
“Hoaaahhh....”, Namji bangun dari tidurnya. “Selamat pagi diriku..”.
Namji berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap ke sekolah.
#SKIP
‘Tep.. tep.. tep..’
Namji menuruni tangga dan sudah memakai seragam sekolahnya.
“Namji, kau sudah siap. Ayo makan!”, kata ibu Namji.
“Ya, bu...”, jawab Namji pelan.
“Namji, nelakangan ini, ibu sering melihatmu pulang sekolah dan langsung berlari ke kamar. Ada apa?”, tanya ibu Namji sambil menuangkan susu putih untuk Namji.
“Ti... tidak apa-apa kok, bu! Aku hanya... mau nonton film kesukaaku di kamar... hehehe...”, jelas Namji dengan senyum ragu.
“Ooh... ibu kira kamu kenapa! Lain kali, masuk rumah pelan-pelan, ya!”, kata ibu Namji.
“Iya, bu...”, kata Namji sambil tersenyum di paksakan. Sebenarya itu karena June, aku hanya tidak mau ibu  tau tentang ini...
Di sekolah...
Namji tentu masih menjalani hidupnya seperti biasa, tapi sekarang agak lebih cuek. Hanya Hanmi yang bisa membuat Namji termotivasi kembali.
Saat masuk kelas, Namji melihat tempat duduk June masih kosong. Karena banyak pikiran, Namji sampai lupa bahwa June hari ini mungkin pergi ke Korea.
Apa dia terlambat? Tanya Namji pada dirinya sendiri.
Tanpa berpikir lagi, Namji pun duduk di tempat seperti biasanya. Setelah duduk Namji mengambil buku komik dari tasnya dan membaca sambil menunggu bel masuk.
‘Kriiiinngg!!!!’, beberapa menit kemudian bel berbunyi dan Bu Fia masuk.
“Selamat pagi, anak-anak!”, sapa bu Fia sambil tersenyum.
“Selamat pagi, bu!”, jawab semua murid.
“Sekarang kita absen dulu, ya..”, bu Fia membuka buku absen sambil duduk di kursinya. “Ani”.
“Hadir!”.
“Aidi”.
“Hadir!”.
“June”.
Tidak ada yang menjawab.
“Oh! Maaf, ibu lupa. June sudah keluar, ya?”, kata bu Fia langsung melanjutkan absen selanutnya.
Apa??!! June sudah keluar?! Ah! Aku lupa kalau kemarin dia bilang mungkin akan pergi hari ini dan benar?, Namji membelalakan matanya saat bu Fia mengatakan bahwa June sudah keluar.
“Bu! June kapan berangkatnya?”, tanyaku dengan tenang menutupi terkagetkanku.
“Kata ayah June, mereka akan berangkat sore. Tapi, mereka akan ke halte bus dulu sebelum ke Bandara”, jelas bu Fia.
“Dimana halte itu, bu?”, tanya Namji lag.
“Mmm... kalau itu ibu kurang tau, coba tanyakan saja nanti pada June, Dia kan berangkat sore, jadi pulang sekolah kamu bisa menanyakannya”, jelas bu Fia lagi.
“I.. iya, baik, bu...”, kata Namji singkat.
“Baiklah, buka buku paket halaman 134!”, perintah bu Fia.
“Baik, bu!”, seru semua murid kecuali Namji.
Namji hanya terpaku diam berpikir June telah pergi ke Korea. Namji memalingkan wajahnya ke kursi sebelahnya, kursi June. “June...”.
Saat istirahat, Namji pergi ke atap sekolah. Sepi, sunyi, hanya angin yang berhembus. Namji mendekati kursi panjang yang biasa di buat Jue tidur, membayangkan June tidur, lalu hilang. Lalu, Namji pergi ke taman belakang sekolah tempat dimana June akan menyatakan perasaannnya kapada Namji, namun Namji masih belum tau.
“Masih ada kesempatan, Namji...”, gumam Namji pada dirinya sendiri. “Kejar dia!”.
Sepulang sekolah, Namji di jemput oleh pak Ferdi yang baru saja pulang dari kampung. Tapi, Namji tidak langsung ke halte pusat. Namji ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil handphone-nya.
‘Krek!’, Namji memasang baterai handphone-nya yang terlepas, da menyalakannya.
Setelah menyala, Namji langsung menelpon June. Lama sekali menjawabnya, dan akhirnya teleponnya di angkat.
“Halo? Namji?”, June mangangkat teleponnya.
“Hey! Kau! Sekarang ada dimana?!”, Namji langsung menanyakan dgan nada suara tinggi.
“Aku sedang dalam perjalanan ke halte bis, kenapa?”, suara June terdengar datar-datar saja, tidak tinggi dan juga redah, bisa di bilang.... santai.
“Kenapa kau terengar biasa saja?!”.
“...”, June terdiam.
‘Tok.. tok.. tok..’, pintu kamar Namji di ketuk seseorang.
“Ya?”, Namji langsung membuka pintu. Dan itu adalah ibu Namji.
“Namji, tadi sebelum kamu pulang June kesini. Dia nitip surat ini ke ibu..”, jelas ibu Namji. Namji mengambil surat itu dab ibu Namji pun pergi.
Namji meneruskan telepon terlebih dahulu. “Halo June?”.
“Ya?”, jawab June.
“Kau memberiku surat?”.
“Hem...”, jawab June singkat. “Bacalah...”.
“Jangan di tutup teleponnya!”.
“Iya..”.
Namji embuka surat itu an membacanya :
Dear Namji
Kenapa kau tidak jawab teleponku? Aku ingin memberi taumu kalau aku akan berangkat jam 5 sore ke halte, dan memintamu menemaniku. Tapi, mungkin kau tidak akan mau...
Maaf, kalau aku sering menjahilimu. Dan jika kau ingin tau yang sebenarnya, mungkin kau boleh menjemputku ke halte. Hahaha... bodohnya aku ini! Kau tidak mungkin mau mengantarkan bahkan mempedulikan orang yang selalu jahil padamu, kan?
TTD : June
Dia meminta maaf? Dan memintaku untuk megantarnya? Yang sebenarnya? Apa maksudnya?, Namji terus bertanya-tanya dalam hatinya.
“Tunggu! Telponnya!”, Namji langsung mengambil handphone-nya untu melanjutkan obrolannya dengan June tadi.
‘Tuut.. tuut.. tuut...’.
“Sudah kuduga di pasti akan enutupnya!”, geram Namji sambil memegang erat handphone-nya karena kesal.
Hening. Dengan handphone yang peneleponnya baru saja mematikan sambungkan di tangan kanan, dan surat di tangan kiri, Namji hanya diam memandangi keduanya.
‘Bruk! Bruakk!! Gedebak(?)! Gedebugh(?)!!’.
Namji membuka pintu kamarnya dan membantingnya , lalu menuruni tangga dengan cepat. Melewti ibunya yang sedang menonton tv.
“Bu! Aku berangkat!”, secepat kilat dengan suara yang cepat pula Namji langsung keluar.
“Lho? Siapa yang bicara tadi? Dan seperti ada yang lewat dibelakangku? Ah! Mungkin hanya perasaanku saja!”, gumam ibu Namji. Bahkan ibunya sampai tidak tau itu Namji... -_-
‘Srrsssshhh!!!’, ternyata hujan turun sangat deras.
“Ish! Kenapa harus hujan?!”, geram Namji. “Pokoknya, aku tidak boleh menyerah!”.
Lalu, Namji langsung mengambil sepedanya yang sudah basah karena hujan. Kenapa tidak menggunakan mobil saja, dan minta diantarkan pak Ferdi? Itu karena, saat menjelang malam jalan macet menuju halte bis pusat, banyak yang pulang kerja. Akan lebih lama jika Namji pergi dengan mobil, dan untungnya ada jalur untuk sepeda ke halte bis pusat.
 “June! Kau tidak boleh pergi sebelum aku mengetahui perasaanmu padaku!”, teriak Namji di tengah perjalanan.
Saat sampai di halte...
‘Brakk!’
Namji langsung turun dari sepeda, sementara sepedanya hanya tergeletak sembarangan di tempat pakiran khusus sepeda.
Namji menuju loket terlebih dahulu untuk menanyakan keberangkatan bis ke Bandara Soekarno Hatta.
“Mba! Bis menuju Bandara Soekarno Hatta kapan berangkat?”, tanya Namji dengan serius.
“Oh! Bis menuju Bandara Soekarno Hatta akan berangkat sebentar lagi, sekitar 1 menit lagi”, jelas wanita penjaga loket itu.
“Dimana bis itu?”, tanya Namji lagi.
“Tinggal lurus saja ke arah sana, jika menemukan toilet, belok kanan. Lalu lurus, dan perhentian bisnya ketemu”, jelas wanita penjaga loket itu lagi.
“Apa cukup jauh dari sini?”.
“Lumayan”.
“Baiklah, terimakasih”.
“Ya”..
Bagaimana aku bisa kesana dalam waktu hanya 1 menit?, batin Namji cemas.

To Be Continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Just a announcement! ^.^

Jika ada sebuah kata-kata yang di translate salah, saya mohon maaf!

Thank you!

Do you want to translate my story??