#Title : Is
This The Feel Of Love? (Part 7)
#Genre :
Love and Friendship
#Author :
Ukima Kanna (Aisyah)
#Tingkatkepenulisan
: Level 1 (Jadi maklum jika jelek)
#Cast :
Namji
June (Jun)
Hanmi (teman dekat Namji)
Kina (musuh Namji)
#Warning! Banyak typo!!! (Maybe)
Telepon terus berdering tapi Namji bersikeras menutupnya
terus, dan akhirnya Namji mematikan handphone-nya.
“Lebih baik aku tidur!”, Namji langsung pergi ke kamar
mandi untuk mengganti pakaian dan mandi.
Setelah mandi, Namji sudah memakai piyamanya. Dan
akhirnya duduk di pinggir kasur ambil menggosok rambutnya yang basah dengan
handuk.
“Besok akan menjadi hari yang buruk!”, gumam Namji kesal.
Keesokan harinya...
“Hoaaahhh....”, Namji bangun dari tidurnya. “Selamat pagi
diriku..”.
Namji berjalan menuju kamar mandi untuk mandi dan bersiap
ke sekolah.
#SKIP
‘Tep.. tep.. tep..’
Namji menuruni tangga dan sudah memakai seragam
sekolahnya.
“Namji, kau sudah siap. Ayo makan!”, kata ibu Namji.
“Ya, bu...”, jawab Namji pelan.
“Namji, nelakangan ini, ibu sering melihatmu pulang
sekolah dan langsung berlari ke kamar. Ada apa?”, tanya ibu Namji sambil
menuangkan susu putih untuk Namji.
“Ti... tidak apa-apa kok, bu! Aku hanya... mau nonton
film kesukaaku di kamar... hehehe...”, jelas Namji dengan senyum ragu.
“Ooh... ibu kira kamu kenapa! Lain kali, masuk rumah
pelan-pelan, ya!”, kata ibu Namji.
“Iya, bu...”, kata Namji sambil tersenyum di paksakan. Sebenarya itu karena June, aku hanya tidak
mau ibu tau tentang ini...
Di sekolah...
Namji tentu masih menjalani hidupnya seperti biasa, tapi
sekarang agak lebih cuek. Hanya Hanmi yang bisa membuat Namji termotivasi
kembali.
Saat masuk kelas, Namji melihat tempat duduk June masih
kosong. Karena banyak pikiran, Namji sampai lupa bahwa June hari ini mungkin
pergi ke Korea.
Apa dia
terlambat? Tanya Namji pada dirinya sendiri.
Tanpa berpikir lagi, Namji pun duduk di tempat seperti
biasanya. Setelah duduk Namji mengambil buku komik dari tasnya dan membaca
sambil menunggu bel masuk.
‘Kriiiinngg!!!!’, beberapa menit kemudian bel berbunyi
dan Bu Fia masuk.
“Selamat pagi, anak-anak!”, sapa bu Fia sambil tersenyum.
“Selamat pagi, bu!”, jawab semua murid.
“Sekarang kita absen dulu, ya..”, bu Fia membuka buku
absen sambil duduk di kursinya. “Ani”.
“Hadir!”.
“Aidi”.
“Hadir!”.
“June”.
Tidak ada yang menjawab.
“Oh! Maaf, ibu lupa. June sudah keluar, ya?”, kata bu Fia
langsung melanjutkan absen selanutnya.
Apa??!! June
sudah keluar?! Ah! Aku lupa kalau kemarin dia bilang mungkin akan pergi hari
ini dan benar?, Namji membelalakan matanya saat bu Fia mengatakan
bahwa June sudah keluar.
“Bu! June kapan berangkatnya?”, tanyaku dengan tenang
menutupi terkagetkanku.
“Kata ayah June, mereka akan berangkat sore. Tapi, mereka
akan ke halte bus dulu sebelum ke Bandara”, jelas bu Fia.
“Dimana halte itu, bu?”, tanya Namji lag.
“Mmm... kalau itu ibu kurang tau, coba tanyakan saja
nanti pada June, Dia kan berangkat sore, jadi pulang sekolah kamu bisa
menanyakannya”, jelas bu Fia lagi.
“I.. iya, baik, bu...”, kata Namji singkat.
“Baiklah, buka buku paket halaman 134!”, perintah bu Fia.
“Baik, bu!”, seru semua murid kecuali Namji.
Namji hanya terpaku diam berpikir June telah pergi ke
Korea. Namji memalingkan wajahnya ke kursi sebelahnya, kursi June. “June...”.
Saat istirahat, Namji pergi ke atap sekolah. Sepi, sunyi,
hanya angin yang berhembus. Namji mendekati kursi panjang yang biasa di buat
Jue tidur, membayangkan June tidur, lalu hilang. Lalu, Namji pergi ke taman
belakang sekolah tempat dimana June akan menyatakan perasaannnya kapada Namji,
namun Namji masih belum tau.
“Masih ada kesempatan, Namji...”, gumam Namji pada
dirinya sendiri. “Kejar dia!”.
Sepulang sekolah, Namji di jemput oleh pak Ferdi yang
baru saja pulang dari kampung. Tapi, Namji tidak langsung ke halte pusat. Namji
ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil handphone-nya.
‘Krek!’, Namji memasang baterai handphone-nya yang terlepas, da menyalakannya.
Setelah menyala, Namji langsung menelpon June. Lama
sekali menjawabnya, dan akhirnya teleponnya di angkat.
“Halo? Namji?”, June
mangangkat teleponnya.
“Hey! Kau! Sekarang ada dimana?!”, Namji langsung
menanyakan dgan nada suara tinggi.
“Aku sedang
dalam perjalanan ke halte bis, kenapa?”, suara June
terdengar datar-datar saja, tidak tinggi dan juga redah, bisa di bilang....
santai.
“Kenapa kau terengar biasa saja?!”.
“...”, June
terdiam.
‘Tok.. tok.. tok..’, pintu kamar Namji di ketuk
seseorang.
“Ya?”, Namji langsung membuka pintu. Dan itu adalah ibu
Namji.
“Namji, tadi sebelum kamu pulang June kesini. Dia nitip
surat ini ke ibu..”, jelas ibu Namji. Namji mengambil surat itu dab ibu Namji
pun pergi.
Namji meneruskan telepon terlebih dahulu. “Halo June?”.
“Ya?”, jawab
June.
“Kau memberiku surat?”.
“Hem...”, jawab
June singkat. “Bacalah...”.
“Jangan di tutup teleponnya!”.
“Iya..”.
Namji embuka surat itu an membacanya :
Dear Namji
Kenapa kau tidak jawab teleponku? Aku
ingin memberi taumu kalau aku akan berangkat jam 5 sore ke halte, dan memintamu
menemaniku. Tapi, mungkin kau tidak akan mau...
Maaf, kalau aku sering menjahilimu. Dan
jika kau ingin tau yang sebenarnya, mungkin kau boleh menjemputku ke halte.
Hahaha... bodohnya aku ini! Kau tidak mungkin mau mengantarkan bahkan
mempedulikan orang yang selalu jahil padamu, kan?
TTD : June
Dia meminta maaf? Dan memintaku untuk megantarnya? Yang
sebenarnya? Apa maksudnya?,
Namji terus bertanya-tanya dalam hatinya.
“Tunggu!
Telponnya!”, Namji langsung mengambil handphone-nya
untu melanjutkan obrolannya dengan June tadi.
‘Tuut.. tuut..
tuut...’.
“Sudah kuduga di
pasti akan enutupnya!”, geram Namji sambil memegang erat handphone-nya karena kesal.
Hening. Dengan handphone yang peneleponnya baru saja
mematikan sambungkan di tangan kanan, dan surat di tangan kiri, Namji hanya
diam memandangi keduanya.
‘Bruk! Bruakk!!
Gedebak(?)! Gedebugh(?)!!’.
Namji membuka
pintu kamarnya dan membantingnya , lalu menuruni tangga dengan cepat. Melewti
ibunya yang sedang menonton tv.
“Bu! Aku
berangkat!”, secepat kilat dengan suara yang cepat pula Namji langsung keluar.
“Lho? Siapa yang
bicara tadi? Dan seperti ada yang lewat dibelakangku? Ah! Mungkin hanya
perasaanku saja!”, gumam ibu Namji. Bahkan ibunya sampai tidak tau itu Namji...
-_-
‘Srrsssshhh!!!’,
ternyata hujan turun sangat deras.
“Ish! Kenapa harus
hujan?!”, geram Namji. “Pokoknya, aku tidak boleh menyerah!”.
Lalu, Namji
langsung mengambil sepedanya yang sudah basah karena hujan. Kenapa tidak
menggunakan mobil saja, dan minta diantarkan pak Ferdi? Itu karena, saat
menjelang malam jalan macet menuju halte bis pusat, banyak yang pulang kerja.
Akan lebih lama jika Namji pergi dengan mobil, dan untungnya ada jalur untuk
sepeda ke halte bis pusat.
“June! Kau tidak boleh pergi sebelum aku
mengetahui perasaanmu padaku!”, teriak Namji di tengah perjalanan.
Saat sampai di
halte...
‘Brakk!’
Namji langsung
turun dari sepeda, sementara sepedanya hanya tergeletak sembarangan di tempat
pakiran khusus sepeda.
Namji menuju loket
terlebih dahulu untuk menanyakan keberangkatan bis ke Bandara Soekarno Hatta.
“Mba! Bis menuju
Bandara Soekarno Hatta kapan berangkat?”, tanya Namji dengan serius.
“Oh! Bis menuju
Bandara Soekarno Hatta akan berangkat sebentar lagi, sekitar 1 menit lagi”,
jelas wanita penjaga loket itu.
“Dimana bis itu?”,
tanya Namji lagi.
“Tinggal lurus
saja ke arah sana, jika menemukan toilet, belok kanan. Lalu lurus, dan
perhentian bisnya ketemu”, jelas wanita penjaga loket itu lagi.
“Apa cukup jauh
dari sini?”.
“Lumayan”.
“Baiklah, terimakasih”.
“Ya”..
Bagaimana aku bisa kesana dalam waktu hanya 1 menit?, batin Namji cemas.
To Be Continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar