#Title : Pigeon and the Mail
#Part : 1 (Satu)
#Genre : Romance, Comedy, Fantasy
#Rate : T
#Author : Aisyah Arsyaf
#MainCast : Aika (Female Main Cast)
Hari demi hari
berlalu. Orang diseberang sana yang mengirimkanku surat lewat merpati masih
belum berhenti mengirimkan suratnya. Dia selalu mebirimkan suarat itu di pagi
hari, jika dia tidak mengirimkannya pagi hari di akan mengirimkannnya malam
hari.
Kalau terus seperti ini, bagaimana jika itu orang
jahat yang ingin menculikku?,
pikirku.
Orang itu selalu
mengirimkan pertanyaan yang sederhana. “Sudah makan?”, “Jaga kesehatanmu”,
“Jangan bolos sekolah dan belajarlah dengan tekun”, dan lainnya. Apa
jangan-jangan orang ini adalah fans beratku?! Tidak mungkin...
Di sekolah...
“Surat-surat
dari orang itu pasti akan memenuhi lemariku...”, gumamku.
“Yo, Ai! Kok
ngomong sendiri? Udah mulai rada-rada ya?”, sapa sahabatku Haruna.
“Ya nggak lah!
Aku cuma—“.
“Hei, itu kan Sandi!
Kenapa dia ada di kelas reguler?”, bisik Haruna memotong ucapanku.
“Hei! Ada Bu Siti!
Cepat duduk!”, seseorang tiba-tiba berlari masuk dari luar.
Semua murid pun
duduk dan kebingungan dengan Sandi yang masuk kelas reguler.
“Anak-anak,
mulai hari ini Sandi akan berada di kelas reguler”, ujar bu Siti.
“Dia kan pintar
dan berada di kelas unggulan, bu! Kenapa pindah ke reguler?”, tanya salah satu
anak.
“Itu adalah
privasi. Sekarang berteman baiklah dengan Sandi. Sandi, tolong ajari
teman-temanmu jika mereka kesulitan.
“Iya bu”, jawab Sandi.
“Wow... Sandi di
kelas kita! Pangeran! Pangeran!”, bisik beberapa anak perempuan.
“Apa maksud
mereka dengan pangeran?”, gumamku.
“Kau tidak
tau?!”, tiba-tiba Haruna menyeletuk dari depanku.
“Ett! Jangan
kageti aku begitu!”, marahku.
“Ya habisnya,
masa’ kau tidak tau Sandi si Pangeran SMA?!”, Haruna terlihat heboh.
“Memang apa yang
spesial tentang dia?”, tanyaku kebingungan.
“Argh kau ini! Sandi
adalah primadona SMA Rose ini, dengan keindahan wajah dan tinggi badan ideal,
terlebih lagi otaknya yang luar biasa encer! Karena kesempurnaannya yang jarang
dimiliki murid laki-laki lain, dia disebut ‘Pangeran’”, jelas Haruna.
“Yah, percuma
kau menjelaskan panjang lebar kali tinggi di bagi dua. Lagipula aku tidak
peduli hal-hal seperti itu”, ujarku.
“Aika!!”, teriak
Haruna.
Aku
memeperhatikan Sandi dari jauh yang sedang dikerumuni banyak orang. Memang sih,
anak seperti dia pantas disebut “Pangeran”. Tapi...
‘Set..’.
“Hah!”, sekilas
aku melihat matanya menatapku dan dia tersenyum misterius. Ada apa dengannya? Jangan-jangan aku dikira suka?!
“Sudah! Semua
kembali ke kursi masing-masing. Sekarang kita akan mempelajari tentang Bab
Lingkaran”, ucap Bu Siti tiba-tiba.
“Baik bu!”,
jawab seluruh anak.
Pulang
sekolah...
“Seru juga ya,
ada Sandi di kelas kita! Kita kelas paling beruntung~”, ucap Haruna kegirangan.
“Aku tidak
begitu tertarik dengan orang sepertinya”, ujarku cuek.
“Ehh?? Dia tuh
kan ganteng tau, terus ketjeh, cettar membahana samber gledek...
blablablablablabla...”, Haruna asik sendiri lagi.
“Dia mulai
lagi...”, gumam Aika.
‘Kepak..
kepak..’, tiba-tiba aku melihat seekor merpati terbang.
“Merpati itu...
Yang sering dikirim orang misterius!”, ujarku. “Haruna! Aku pulang duluan ya,
baru ingat ada urusan mendadak...”.
“Heee...”,
Haruna hanya terpaku.
‘Drap.. Drap..’,
aku terus berlari ke arah rumahku.
Sepertinya merpati itu memang dari orang
misterius... Dia menuju rumahku. Sebaiknya kau cepat, pikirku sambil melihat merpati itu dari jauh.
Akhirnya aku
sampai di rumah. Aku langsung berlari ke kamarku di atas. Dan benar saja,
merpati itu sudah ada di jendela kamarku.
Tunggu... Kenapa aku buru-buru sekali ingin menerima
surat itu??, pikirku bingung.
‘Kurr...
kurr..’, merpati itu mendekatiku.
“Hey, pemilikmu
mengirim lagi ya... Mari kita lihat apa lagi isi suratnya”, kataku sambil
membuka ikatan di kaki merpati itu dan membaca suratnya.
“Hai... Aika. Maaf mungkin aku terlalu banyak
mengirim surat kepadamu. Tapi aku selalu ingin mendengar semua tentangmu. Apa
hobimu? Apa hal yang kau sukai? Apa kau suka roti panggang? Aku suka sekali
roti panggang. Tapi tenang saja, tak lama lagi kita akan bertemu”, aku membaca isi surat itu.
“Ini surat yang
paling panjang dari semua surat yang orang ini kirim. Siapa sebenarnya dia? Apa
kami pernah bertemu? Kenapa dia bilang tak lama lagi kami akan bertemu?
Jangan-jangan dia benar-benar akan menculikku?”, aku bergumam panjang.
‘Cling..’, suara
notifikasi dihandphoneku tiba-tiba
berbunyi. Aku pun menghampiri handphoneku
dan membukanya.
“Dari Haruna...
Isinya...”, aku mulai membacanya.
Aika~
Y>.<Y
Sebentar lagi
kamu ultah kan? Mau aku kasih kejutan gak? Aku yakin nanti kamu pasti kaget
dengan kejutanku. Aku bakal ngasih kamu gantungan kunci dari anime yang kamu
suka –W-
“Dia mau kasih
kejutan tapi malah ngasih tau. Tapi ngomong-ngomong, memang sebentar lagi ulang
tahunku sih...”, gumamku. Aku akan berumur 18 tahun di tanggal 18 September
ini. Minggu depan.
Aku bengong
sebentar.
“Oh iya, balasan
suratnya... Umm.. ‘Aku masih belum mengerti apa yang kau ucapkan, tapi jika
kita akan bertemu, aku harap kau tidak melakukan sesuatu yang buruk padaku’.
Oke! Ini dia”, gumamku sabil menggulung kertas dan mengikatnya lagi di burung
merpati itu.
‘Kepak..
Kepak..’, merpati itu pun kuterbangkan.
Keesokan
harinya...
‘Tok.. tok..’,
tiba-tiba terdengar suara ketukan kecil dari jendela.
“Ungh... Suara
itu... Pasti merpati itu lagi”, gumamku yang terbangun oleh suara ketukan di
jendela. Aku pun bangkit dari tembat tidur dan menghampiri jendela.
Aku membuka
tirai, tapi tidak ada apapun disana melainkan sepucuk surat yang terselip di
jendela.
“Loh? Tidak ada
apapun? Tapi ada surat yang terselip disini”, aku pun mengambil surat itu lalu
membukanya.
Isinya...
Kepada Aika,
Temui aku di taman
tertua yang ada di daerahmu di hari ulang tahunmu dan tepat jam 8 malam. Aku
berada pada sebuah metal putih yang indah mengitari langit-langit.
P.S : Jangan terlambat
“Oke, sekarang
aku benar-benar takut. Haruskah aku pergi?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar