#Title : Is This
The Feel Of Love? (Part 2)
#Genre : Love
and Friendship
#Author : Ukima
Kanna (Aisyah)
#Tingkatkepenulisan
: Level 1 (Jadi maklum jika jelek)
#Cast : Namji
June (Jun)
Hanmi (teman dekat Namji)
Kina (musuh Namji dan
mantan sahabat Namji)
‘Plakk!’ aku langsung menampar pipi anak perempuan
yang baru saja bicara. Dan tamparanku
itu bahkan hampir membuatnya jatuh.
“Aww!” katanya meringis. Aku tau itu pasti sakit, karena
tanganku menceplak di pipinya sampai merah.
“Ayo, kita pergi! Mereka hanya SAMPAH sekolah!!” kataku
mengencangkan suara di kata-kata “sampah”. Aku menuntun anak perempuan berkaca
mata itu dengan kucingnya keluar taman belakang sekolah.
“Apa??” anak perempuan yang tadi
aku tampar menggeram. “Lihat saja nanti, Namji!"
**
****
“Huh! Sebenarnya siapa anak perempuan itu?
Berani-beraninya dia seenaknya..” kataku kesal sambil mengobati luka di telapak
tangan anak perempuan berkacamata itu. Sepertinya luka saat ia di dorong. Aku
membawanya ke atap sekolah agar lebih tenang.
“Terima kasih, ya. Kau sudah menolongku..” katanya.
“Ya, lagipula anak seperti itu pantas di beri pelajaran!”
kataku.
Setelah mengobati luka pada anak berkaca mata itu dan
kucinnya, aku duduk di samping anak perempuan itu.
“Oh iya, namamu siapa?” tanyaku sambil mengulurkan tangan
sebagai tanda perkenalan.
“Oh! Namaku Hanmi, dan kau?” katanya membalas jabatan
tanganku.
“Aku Namji,”.
“Dan tadi kau bilang kau juga berasal dari sekolah yang
sama dengan mereka (4 permpuan tadi) dan aku kan?” katanya sambil melepaskan
jabatan tangan kami.
“Ya, aku murid baru”.
“Tapi kenapa kau tau aku murid baru?”.
“Tadi mereka kan bilang, ‘Biasanya murid baru itu tidak
ada gunanya, sama seperti dia’. Dan dia yang di maksud mereka itu kau” jelasku.
“Sekali lagi terima kasih..” katanya.
“Ya. Dan sampai sekarang aku masih penasaran...”.
“Dengan apa?”.
“Tadi, aku merasa anak permepuan yang tadi aku tampar
menyebut namaku, padahal kami belum pernah bertemu. Apa itu Cuma perasaanku
saja, ya?” jelasku lagi. “Kau tau namanya?”.
“Mungkin saja hanya perasaanmu, mungkin juga iya. Dan
namanya, Kina” jawabnya.
“Hah? Kina? Apa kau yakin?” tanyaku kaget.
“Ya, aku benar-benar yakin. Waktu absen, dan guru
menyebut nama ‘Kina’, dialah yang menjawab. Kenapa memangnya?”.
“Ti.. tidak mungkin! Kina itu..... adalah sahabatku saat
kelas 5 SD!”. Ya, Kina adalah sahabatku, bisa di bilang mantan sahabatku. Aku
memutuskan tidak menjadi sahabatnya lagi, karena sikapnya yang buruk. Seperti
membully murid lan, memalaki adik kelas, hutang setiap hari di kantin, dan
perbuatan buruk lainnya.
“Masih jadi sahabat sampai sekarang?”.
“Tidak, aku tidak bersahabat dengannya lagi saat
perpisahan SD. Sikapnya yang buruk membuat aku muak! Aku tak percaya sekarang
sikapnya makin buruk!”.
“Ya ampun, jadi dulu Kina juga seburuk itu?”.
“Ya..” kataku pelan.
“Hem.... baiklah ayo kita pulang sekarang sudah semakin
sore”.
“Ya!”.
Kami berdua pun turun dari atap dan pulang bersama. Aku
mengantarkan Hanmi dengan mobil, karena rumahnya hanya beda 3 gang dari gang
rumahku.
“Sampai jumpa besok, Namji!” kata Hanmi.
“Ya, sampai jumpa besok!” kataku sambil tersenyum lembut.
Lho? Sekarang aku tersenyum? baru kali ini aku tersenyum saat pertama kali
masuk sekolah. Biasanya, aku tersenyum setelah 2 atau 3 minggu di sekolah.
Sampainya di rumah, aku langsung menuju kamar. Dan mandi
(kamar mandiku di dalam kamar, karena kamarku cukup besar).
Setelah mandi, aku memakai baju tidurku. Lalu merebahkan
diri, tapi bukan tidur, aku hanya ingin bepikir.
“Kina, aku benar-benar kecewa dan muak kau seperti itu!”
gumamku.
‘(nada piano Jeongmin solo-What Should I Do)’ teleponku
berbunyi, sepertinya ada SMS Dan itu dari Hanmi, tadi kami sempat memberi
no.telp masing-masing.
Aku membuka SMS yang berisi...
From : Namji
Namji, besok di sekolah saat
istirahat, kita ngobrol-ngobrol di atap sekolah, yuk! ;)
Aku ingin lebih dkat lagi
denganmu, mungkin kita bisa jadi sahabat... >_6
Eh? Sahabat? Bisakah
aku dan Hanmi jadi sahabat? Kalau dia seperti Kina bagaimana? Ah! Tidak
mungkin, Hanmi melindungi kucing saja sampai terluka. Kalau Kina boro-boro
terluka karena melindungi! Melindungi saja tidak pernah!
Aku pun menjawab :
To : Hanmi
Baiklah, atap sekolah adalah
tempat faforitku. Aku pasti akan datang! :)
Pertama kalinya aku
langsung bisa akrab dengan salah satu murid sekolah di hari pertama sekolah...
sebelumnya, butuh 3-4 minggu untuk berteman 1 orang saja (Author : wah.. wah..
:3).
Tiba-tiba SMS dari
Hanmi masuk :
From : Hanmi
(y)
Tak terasa sudah
waktunya makan malam, aku pun turun dan makan bersama kedua orang tuaku dan 2
adik perempuanku yaitu Kumi dan Jinmin. Setelah makan, aku pun tidur.
Paginya...
‘(lagu
Boyfriend-ALARM)’ alarmku berbunui jam 5 pagi. Aku pun bangun, mempersiapkan
mata pelajaran sekolah, lalu mandi. Setelah mandi, aku memakai baju seragamku
(rok pendek biru selutut, baju kemeja lengan pendek berkerah, di setiap
pinggirnya ada garis berwarna merah, dengan kantong di kanan-kiri rok dan
kantong di dada sebelah kiri yang di depannya ada lamabang sekolah).
Aku menunggu waktu
berangkat yaitu setengah tujuh karena aku masuk jam 7 pagi, dengan sarapan dan
menonton tv sebentar. Saat jam setengah 7, aku pun lagsung berpamitan kepada
kedua orang tuaku dan naik ke mobil.
Sampainya di sekolah,
saat aku berjalan menuju kelasku, murid-murid menatapku sambil berbisik-bisik. Ada apa ini? Kenapa mereka menatapku seperti
itu? Aku bertanya-tanya dalam pikiranku.
Di kelas...
Ya, semua orang
menatapku saat aku masuk kelas. Kecuali June yang sedang tidur di kursi yang
kemarin ia duduki. Tentu saja aku duduk disampingnya, karena tidak ada tempat
duduk lain.
Aku meletakkan tas di
samping meja, karena ada gantungannya. Dan tiba-tiba June terbangun.
“Hem? Lho? Kenapa kau
duduk disini lagi?” katanya setengah terbangun.
“Apa kau tidak lihat
tidak ada tempat duduk lagi?” kataku mengambil hp dan memasang earphone untuk mendegarkan musik.
“Ada, kursi guru masih
kosong, kok!”.
‘Bukk!’ aku langung
menjitaknya. Mana mungkin aku duduk di kursi guru! Itu kan tidak sopan. Ya,
walaupun aku tomboy tapi aku masih punya tatakrama (memangnya menjitak orang
bukan tatakrama? -_-).
“Aduh!” kata meringis
sakit. “Ternyata kau belum menyalakan musiknya..”. Kenapa June suka sekali
menjahiliku, sih? Kenapa dia tidak menjahili yang lain saja selain aku! Huh!
Tapi, bukan saatnya
berpikir tentang itu! Kenapa semua murid memandangku dan berbisik-bisik seperti
itu padaku? Memangnya aku melakukan sesuatu yang salah kemarin?
‘Kriiiingggg!!!!’ bel
sekolah membuyarkan lamunanku.
Bu Hany, guru IPS pun
masuk. Dan mengabsen seluruh murid. Pelajaran pun di mulai, tapi sebelum aku
mengambil buku, hp-ku bergetar dan ternyata ada SMS dari Hanmi.
From : Hanmi
Namji, nanti kamu tunggu di
depan kelasmu saja, ya... jangan langsung ke atas, aku akan menemuimu nanti
Kenapa Hanmi
menyuruhku menunggu di depan kelas? Baiklah, tak apa-apa.
To : Hanmi
Baiklah! (y)
Seteah menjawab SMS,
aku mencatat apa yang di tulis Bu Hany di papan tulis.
Saat istirahat...
“Dimana Hanmi?
Jangan-jangan dia lupa? Atau dia dipergoki Kina dan teman-temannya lagi?”
gumamku.
“NAMJI!!!!” teriak
seseorang dari kanan. Ternyata itu Hanmi yang sedang berlari ke arahku.
“Kenapa
teriak-teri....”.
“Sudahlah! Ayo kita
cepat ke atap sekolah!” bisiknya yang sudah didekatku, dan langsung menarikku
menuju tangga ke atas.
Di atap...
“Ada apa? Sepertinya
gawat sekali?” kataku sambil duduk di bangku panjang atap sekolah.
“Kau... hh.. hh..
itu.... hh... Kina... hh... hh... murid-murid...” katanya yang terengah-engah
setelah berlari.
“Tarik nafas dulu
saja! Kau seperti mau kehabisan nafas!” kataku.
“Baiklah...
Hmmmpphhhh.... Hhaaaahhhh...” Hanmi menarik nafas dan nafasnya pun sudah
membaik.
“Sekarang ceritakan
dengan tenang..”.
“Kau, ada gosip yang
tersebar tentangmu, Namji!”.
“Hah? Gosip? Gosip
apa? Aku kan tidak melakukan apapun kemarin..”.
“Katanya....”.
Hanmi terdiam sejenak dengan
wajah ragu dan risau.
“Katanya kau
berpacaran dengan June..”.
“Hah? Tapi, aku tidak
berpacaran dengannya! Lagipula, memangnya apa hebohnya gosip aku berpacaran
dengannya? Bukannya jika ada gosip beredar seperti itu mereka biasa saja?”.
“Bukan hanya gosip
kamu berpacaran, katanya kau juga.... kiss.. dengan.... June...” kata Hanmi
dengan suara pelan di kata ‘kiss’, lebiih pelan di kata ‘dengan’ dan lebih,
lebih pelan lagi di kata ‘June’.
“APA??!!” teriakku
sampai bangkit dari duduk, dan seseorang dengan kaget. Eh? Seseorang siapa?
Saat aku menengok ke
belakang ternyata itu June, sepertinya dia baru saja naik ke atap sekolah.
“Bahkan beberapa dari
mereka sudah ada yang berpikiran buruk..” lanjut Hanmi lagi.
“Bagaimana bisa
seperti itu?” tanya June kepada Hanmi.
“Aku tidak tau, tapi
tadi pagi aku melihat Kina sedang menyebarkan gosip itu,” kata Hanmi.
“Memangnya Kina punya
buktinya?” kataku makin marah.
“Dia bilang dia
melihat sendiri saat teman-teman bertanya darimana dia tau,” jelas Hanmi.
“Ini tidak bisa
dibiarkan!” kataku dan June saling bertatapan.
To Be Continued....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar