#Title : Is This
The Feel of Love? (Part 5)
#Genre : Love and
Friendship
#Author : Ukima
Kanna (Aisyah)
#Tingkatkepenulisan
: Level 1 (Jadi maklum jika jelek)
#Cast : Namji
June (Jun)
Hanmi (teman dekat Namji)
To : June
Entahlah
Setelah aku menunggu beberapa menit, dia tidak membalas lagi, sepertinya
dia serius. Huff... lelahnya! Lebih baik aku tidur.
Aku pun tidur, tapi sebelum itu aku memasang alarm jam 6 pagi dulu. Lalu
aku mematikan lampu tidur.
Ada perasaan gak
enak untuk besok, kenapa, ya? pikirku dalam
hati.
*sekarang author yang bicara, jadi lebih mudah membaca dan dimengerti.
Authornya juga ribet kalau Namji yang cerita di part ini... #ditaboknamji -_-#Keesokan
harinya...
'Nae gwie allami ullyeo neol kaeugo. Meonghamyeon nunmuri maencheon puk,
geogael sugyeo.... (Boyfriend-Alarm)'
alarm Namji berbunyi.
‘Tep!’ Namji mematikan alarmnya itu.
“Hooaaahh...” Namji nangun sambil merentangkan tangannya ke atas. Dengan
masih wajah setengah bangun, Namji pun turun ke bawah.
Di ruang makan...
“Namji, sudah bangun, nak? Ayo sarapan!” kata ibu Namji.
“Iya, bu...” jawab Namji. Namji pun mengeamil sepotong roti dan mengoleskan
selai kacang. “Huaaahhh...” Namji masih sedikit mengantuk lalu menguap.
Kalau gak salah,
kemarin aku pengen ngapain, ya? (Author : Namji
mulai pikun! :p | Namji : #ngambilbazooka) pikir Namji. O iya, janjian sama June!.
Sementara di rumah June...
“Grokkkk(?)....”, June masih tertidur.
“Wooii!!! Di scene ini gak ada bagian kamu waktu lagi tidur!!!” kata Author
marah.
“Heh?! Ooh... gak ada, ya.. ya udah aku bangun..” kata June langsung
terbangun.
“Dasar!”, dengus Author.
“Hhhh... aku mau sarapan aja, deh!”, June pun langsung keluar dari kamarnya
dan menuju dapur.
‘Klek!’ June membuka kulkas, dia mengambil sebotol susu dan sekotak sereal.
June duduk di depan tv.
“Apa Namji akan datang? Hufft... padahal...”.
‘Trilit.. trilit.. trilit..’ handphone
June berbunyi dengan telepon yang masuk.
“Kina? Tumben sekali dia menelpon..”, gumam June sambil melihat nama yang
tertera di handphonenya.
“Ya? Ada apa Kina?”, June menjawab telepon.
‘June, kau hari
ini ada acara?’, tanya Kina.
“Kenapa kau menanyakan itu?”.
‘Aku hanya ingin
mengajakmu jalan-jalan bersama teman-teman yang lainnya...’, jelas Kina.
“Maaf, aku sudh ada janji! Sudah, ya.. daah!”.
‘Eh... tapi...’.
‘Tep!’ June langsung mematikan sambungan.
“Huft... hampir saja!”, gumam June lega.
Di rumah Kina...
“Hmm... sudah kuduga..”, gumam Kina dengan senyuman licik.
Flashback saat June mengantar Namji.....
‘Ckitt...’ tiba-tiba, June berhenti.
“Kita sudah sampai, turunlah!” kata June membuka kaca
helm.
“Eh? I.. iya...” Hanmi sedikit kaget, dan langsung
melepaskan backhug itu. Lalu, Namji
pun turun.
“Aku hanya bisa mengantarmu sampai depan komplek saja,
tidak apa-apa, kan?” tanya June.
“Justru lebih baik begini!” ketus Namji. “ Tapi....
terima kasih..”.
“Hem... Selamat hari sabtu untuk besok!” kata June
mengangkat tangan dan pergi.
“Arrrrrgggghhhhh!!!!!!!ADA APA DENGANKUUUU???” teriakku.
Untung aku depan komplek, jadi tak ada orang terganggu dengan teriakanku.
Bagaimana tidak kesal? Aku tadi bilang apa? ‘hangat’? Arrrgggghhh!!!
Namji pun memasuki kompleknya.
“Uuh! Mereka makin dekat saja! Bisa-bisa June nembak si
Namji! Ini tidak bisa dibiarkan!”, bisik Kina yang dari tadi bersembunyi di
balik pohon cemara samping gerbang masuk Star
Regency. Tadinya Kina ingin masuk ke komplek itu untuk mengantarkan makanan
ke tempat saudaranya, tapi dia melihat June dan Namji datang, jadi Kina
bersembunyi.
“Besok mungkin mereka ke taman. Tapi kalau salah
bagaimana? Mana mungkin June menyukai Namji? Tapi, demi memiliki June aku harus
mengawasi gerak-gerik Namji jika dia keluar rumah besok!”, kata Kina dengn
senyuman licik dan nada bicara yang sinis.
Flashback end.
“Namji, kau tidak bisa menghindariku jika kau mendekati
June! Hmph... hihihi...”, Kina atertawa geli karena kecerdikannya(?). Author : atau
jangan-jangan Kina gila? | Kina : Gua bacok lu! | Author : pissss... :v.
Jam 17:00...
“Ibu, aku ingin keluar sebentar, ya...”, Namji sudah rapi
untuk bertemu June, tapi tentu saja tidak dengan pakaian yang berlebihan. Hanya
dengan celana bahan berwana hitam, baju atasan berwarna merah yang bertuliskan
“Keep Calm and Think Positive” dengan lengan pendek yang ada manset putih di
dalamnya.
“Ya, jangan pulang terlalu malam, ya...”, pesan ibu
Namji.
“Ya, bu!”, Namji pun langusng keluar rumah.
Tunggu!
Kenapa aku menepati janji itu? Ahh! Sudahlah! Sudah terlanjur kutepati... pikir Namji. Sepertinya Namji mulai gelisah, permisa! :v
Di taman...
“Mana si Namji? Jangan-jangan dia tidak datang...”, gumam
June sambil melihat jam tangannya.
“June!!”, seseorang memanggil June dari pintu taman itu.
Ya, itu Namji.
“Oh, kau datang..”, kata June singkat.
“Lalu?”, Namji bertanya.
“Hem?!”, June tidak mengerti apa maksud Namji.
“Apa yang mau kau bicarakan?”.
“Mmm... bisakah kau membeli minuman kaleng di seberang
sekolah? Jadi... kita bisa.... lebih santai...”, June terlihat gugup.
“Kau aneh! Tapi, aku tidak punya uang!”.
“Ini, pakai uangku saja!”.
“Baiklah, dasar aneh!”.
“Sudahlah! Cepat!”.
Namji pun langsung keluar taman.
“Hh.. hh.. hh.. kenapa aku ini? Kenapa selalu begini?”,
June langusng lemas terduduk di kursi taman.
“June?”, panggil seseorang dari pintu taman.
“Kina? Se.. sedang apa kau disini?”, otomatis June
berdiri karena kaget melihat Kina. Kenapa
Kina harus kesini, sih?.
“Aku hanya ingin kesini. Aku bosan di rumah! Jadi aku
kesini”, tentu saja Kina berbohong, dia hanya melaksanakan rencananya.
“Tapi kenapa harus kesini? Kau kan bisa ke starbukcs ataupun mall”, June mulai
khawatir. Bukan takut membuat Kina marah, tapi June takut rencananya gagal.
(Penasaran apa rencarana June??? Mau di kasih tau sekarang??? #pembacamupeng
:p).
“Aku ingin sendiri... tapi ternyata ada kau disini..”,
kata Kina.
“Kenapa tidak ke tempat lain saja kalau ada aku disini?”.
“Memangnya kenapa?”.
June hanya terdiam.
“June...”.
“Hem?”.
Kina menatap June, dan...
Namji....
“Huuhh... kenapa dia tidak beli saja sendiri sebelum
bertemu? Dasar!”, keluh Namji.
Saat sampai di pintu taman, Namji kaget dan...
‘Klontang!’ plastik dan minuman kaleng itu jatuh.
Ternyata Kina dan June berpelukan! Otomatis mereka berdua
langsung melepaskan pelukan itu.
“N... Namji... Ini tidak...”. June berusaha menjelaskan.
Namji terdiam sambil menatap ke arah tanah.
“Oh, ada Namji! Tadinya aku ingin bicara, tapi aku harus
pergi! Daah!”, Kina langsung pergi dengan senyuman puas. Puas karena telah
menggagalkan rencana, penembakan June kepada Namji. Berhasil!.
“Namji, aku mohon dengarkan aku... ini...”.
“Aku marah bukan karena kau berpelukan dengannya..”, kata
Namji.
“Eh?”.
“Aku marah karena kau memberikan pemandangan yang tidak
aku suka seperti tu! Aku benci melihat seperti itu! Bisa kukatakan....
menjijikan!!”, Namji meninggikan nada suaranya. Beberapa detik terdiam
keduanya, Namji pun pergi dengan jalan cepat.
“Namji! Hei! Tunggu!!” teriak June yang lalu mengejar
Namji.
Di aula sekolah (kalau ingin keluar dari taman belakang
sekolah, harus melewati aula sekolah dulu. Karena tidak ada jalan lain)...
“Namji! Aku mohon tunggu!” teriak June yang maish
mengejar Namji yang berlari.
‘Grep!’ June menagkap tangan Namji.
“Ishh!! Lepaskan! Mau apa kau?”, bentak Namji yang
melepaskan tangan June dari tangannya dengan kasar.
“Dengarkan penjelasanku dulu!!”.
“Tak ada yang perlu dijelaskan!! Kau sudah membuatku
marah, aku tidak suka dengan pemandangan seperti itu! Kalau aku sudah marah,
hari ini cukup!”.
“Lalu kapan aku bisa bertemu denganmu lagi?”.
“Dalam waktu yang lama!”, Namji berbalik dan langsung
pergi meninggalkan June.
Padahal,
hanya 2 kata yang ingin aku ucapkan padamu Namji... Kata, “Aku menyukaimu”... kata June dalam hati.
Flashback June and Kina hug....
‘Grep!’ Kina memeluk June.
“He.. Hey! Apa yang kau lakukan?”, kata June kaget.
“Aku hanya merindukanmu..”.
“Kita kan selalu bertemu di sekolah... Apa kau tidak bisa
melepaskanku?”.
“Aku tidak bisa melepaskanmu..”.
“Kina, aku mohon, lepaskanlah masa lalu... lupakan bahwa
kau menyukaiku dan_”.
“Kalau begitu, aku mohon hanya sekali ini saja aku
memelukmu untuk terakhir kali cintaku kepadamu...”.
‘Klontang!’ nah, saat itulah Namji datang.
Flashback end!
Di rumah Namji...
‘Bugh!’ Namji melempar tubuhnya ke kasurnya.
“Hiks.. Hiks.. kenapa aku menangis? Sebenarnya bagaimana
cinta itu? Aku tidak mengerti perasaanku... Hanmi! Ya, Hanmi tau banyak tentang
cinta, aku harus tanya kepadanya!”.
‘Trililit.. trililit.. trilit.. krek!’.
‘Namji?
Ada apa? Kenapa menelpon malam-malam?’.
“Hanmi... jika ada seseorang marah gara-gara melihat
laki-laki yang dekat dengannya berpelukan dengan orang lain, apa artinya?”.
‘Biasanya
sih, suka dengan laki-laki itu... tapi sikap orang berbeda-beda juga.. kenapa
kau menanyakan itu?’.
“(Namji menceritakan semua kejadian di taman tadi ke
Hanmi)”.
‘Itu
artinya kau suka...’.
“Tidak mungkin!”.
‘Tentu
saja mungkin...’.
“Hem... baiklah, terima kasih!”.
‘Ya,
aku bisa menyelesaikan semua permasalahanmu, kok! Aku bercita-cita menjadi
psikolog..’.
“Semoga cita-citamu terwujud..”.
‘Ya.
Selamat malam, Namji’.
“Selamat malam..”.
‘Trek..’.
“Hhh... bagaiman bisa, aku menyukai June?”, gumam Namji.
‘Cinta
tidak butuh alasan...’, tiba-tiba sebuah
kata lewat di telinga Namji.
“Eh? Apa itu tadi?”, Namji kaget.
Dan tiba-tiba seseorang memegang pundak Namji. Karena
kaget, Namji berdiri dan berbalik.
“Haii!!!”, ternyata itu Hanmi. Yang membisikkan kata-kata
tadi juga Hanmi.
“Lho? Ke.. kenapa kau...”.
“Sebenarnya, tadi kau menelponku saat aku ingin masuk ke
kamarmu, bahkan saat aku ingin mengetuk kamarmu. Ya sudah aku jawab saja
dulu... hehehe..”.
“Tapi, kenapa kau kesini?”.
“Aku hanya mengantarkan kue buatan ibuku ke rumah ini.
Lalu aku ingn ertemu denganmu, jadi aku kesini”.
“Huuh... mengagetkan saja!”.
“Hehehe... Lalu?”.
“’Lalu’ apa?”.
“Apakah rasa itu muncul lagi?”.
“Ya, tapi entah kenapa sakit...”.
“Hahaha!! Sahabatku yang satu ini sedang jatuh cinta
rupanya...”.
“Eh?!”, wajah Namji memerah.
“Ya, kenapa kau tidak menyatakan cinta saja?”.
“Masa’ cewek yang nembak cowok! Lagupula, susah mengejar
orang yang populer, ujung-ujungnya aku hanya akan ditinggalkan. Aku mau
melepaskannya saja...”.
“Hei! Hei! Jangan mudah menyerah, dong...”.
“Kau tidak tau saja bagaimana perasaanku...”.
“Aku pernah merasakan sepertimu, kok!”.
“Hah?”.
“Sudah, ya.. aku pulang dulu, sudah terlalu malam.
Daah!”.
“Eh.. tu...”.
‘Blam!’, Hanmi keluar kamar Namji.
“... nggu.. Hhh...”.
‘(Lagu Boyfriend-Code Name : Spy Get Love)’, telpon Namji
berbunyi.
“June? Huh!”.
‘Klik! Bugh!’, Namji mematikan panggilan dan melempar handphonenya ke kasur.
‘(Lagu Boyfriend-Code Name : Spy Get Love)’, telpon Namji
berbunyi lagi.
“Isshh!!”, kali ini Namji membiarkan telponnya berdering
tanpa mengangkat.
Lalu telponnya berhenti berdering.
‘(Lagu Boyfriend-Code Name : Spy Get Love)’, berbunyi
lagi.
“Uuhhh.....”.
‘Tep!”, Namji menjawab telpnnya.
“Apa??!!”, teriak Namji kepada June kesal .
‘Namji,
besok aku akan pegi ke Korea..’,
kata June tiba-tiba.
“Eh?”.
To Be Continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar